News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Harga Gabah Anjlok, Pemerintah Harus Lakukan Intervensi

Harga Gabah Anjlok, Pemerintah Harus Lakukan Intervensi

Jakarta, www.wartapembaruan.co.id - Anjloknya harga gabah di tingkat penggilingan dan petani di masa panen saat ini membuat para petani semakin kesulitan, apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi tekanan akibat pandemi Covid-19, kata anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan dalam keterangan di Jakarta, Jumat (16/7/2021).

Johan Rosihan mengaku prihatin dengan anjloknya harga gabah saat ini. Bahkan pada Bulan April 2021 lalu harga gabah mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir.

“Perlu intervensi kebijakan pemerintah saat pandemi saat ini untuk membangun rakyat, terutama petani, agar pasokan melimpah di tengah panen raya dapat tetap menguntungkan petani, dan stabilitas harga gabah bisa terjamin,” katanya.

Saat ini, katanya, terjadi surplus yang besar karena sejumlah sentra produksi telah memasuki masa panen, dan kenyataannya harga gabah kering panen (GKP) masih tertahan di bawah harga pembelian pemerintah.

Politisi PKS ini mengungkapkan, perbandingan rata-rata harga gabah pada Juni 2021 dengan tahun sebelumnya pada Juni 2020 menunjukkan kurva penurunan, yakni di tingkat petani untuk kualitas GKP turun sebesar 3,7 persen dan untuk gabah kering giling (GKG) turun drastis sebesar 15,08 persen.

"Demikian juga dengan gabah luar kualitas mengalami penurunan sebesar 5,3 persen," katanya.

Legislator dari wilayah NTB ini mendorong Pemerintah memperbaiki paket kebijakan harga dasar gabah/beras pembelian pemerintah sebagai suatu kebijakan strategis di masa pandemi Covid-19 sehingga dapat menstabilkan harga gabah di setiap wilayah sepanjang tahun.

"Karena realitas di lapangan selalu ditemukan bahwa harga gabah di tingkat petani maupun di penggilingan selalu lebih rendah dari harga pembelian pemerintah. Insiden anjloknya harga gabah selalu terjadi pada saat musim panen, dan hal ini sangat merugikan petani," kata Johan Rosihan.

Ia mendesak Pemerintah segera melakukan intervensi kebijakan melalui kajian yang mendalam untuk membela kepentingan petani agar tidak dirugikan. Dikemukakan, para petani umumnya menjual gabah dalam bentuk GKP dan jarang dalam bentuk GKG maupun beras.

Oleh karena itu, menurutnya, konstruksi kebijakan pembelian oleh Pemerintah diprioritaskan untuk pembelian GKP sebagai instrument penyangga harga gabah petani agar harganya selalu stabil.

Johan Rosihan juga meminta Pemerintah agar konsisten melarang impor beras ketika produksi domestik meningkat tajam, dan sikap tegas pelarangan impor beras tersebut dapat bermanfaat untuk meningkatkan harga gabah petani sehingga tidak terjadi disparitas harga yang tajam.

"Saya melihat akar penyebab dari anjloknya harga gabah petani adalah karena tarif impor beras yang terlalu rendah, sehingga ketika ada rencana impor dari Pemerintah, maka akan langsung memengaruhi harga gabah petani.

Ia menambahkan, saat ini diperlukan kebijakan Pemerintah untuk membuka pasar beras domestic, sehingga harga beras yang saat ini cukup tinggi di pasar dunia dapat ditransmisikan, dan harga gabah petani bisa mengalami peningkatan. 

"Selain itu Pemerintah juga mesti mewajibkan Bulog agar beras yang disalurkan dalam program Bansos pada masa pandemi ini harus beras dari pengadaan dalam negeri,” kata Johan Rosihan. (ys_soel)

Tags

Newsletter Signup

Silahkan isi Email anda disini untuk mengikuti berita terbaru dari Warta Pembaruan.

Posting Komentar