Dari Kesultanan ke Genangan: Zikir, Fikir, Amal Shaleh yang Hilang di Tengah Banjir Aceh
Oleh: Muhammad Afif Irvandi El Tahiry
Ketua PMII( Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ) Rayon Laksamana Malahayati
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI, Wartapembaruan.co.id - Banjir yang kembali melanda Aceh hari ini bukan hanya menghadirkan genangan air, tetapi juga membuka kenyataan pahit: melemahnya kesadaran dan tumpulnya tanggung jawab. Yang lebih memprihatinkan, respons dari pemerintah terhadap bencana ini terasa lamban, bahkan cenderung abai terhadap peristiwa ini. Seolah-olah banjir adalah peristiwa biasa yang cukup disikapi dengan kata-kata saja, bukan kerja nyata.
Padahal, jika kita menoleh ke masa lalu, Aceh pernah berdiri sebagai peradaban besar di bawah Kesultanan Aceh. Sebuah masa ketika agama, ilmu, dan kebijakan berjalan beriringan. Zikir, fikir, dan amal shaleh bukan sekadar konsep, tetapi menjadi sistem hidup yang membentuk tata kelola negeri pada saat itu.
Pada masa Kesultanan Aceh, ulama memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan politik. Tokoh-tokoh seperti Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Nuruddin Ar-Raniry tidak hanya mengajarkan tasawuf dan fikih, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan, termasuk hubungan dengan lingkungan alam.
Zikir tidak hanya dimaknai sebagai ibadah lisan, tetapi kesadaran batin yang melahirkan sebuah tanggung jawab. Fikir tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat dalam hal diskusi, kajian, dan penulisan menjadi bagian dari kehidupan. Sementara amal shaleh tampak dalam kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan, termasuk dalam menjaga lingkungan yang ada.
Masyarakat Aceh tempo dulu hidup dengan kearifan. Hutan tidak ditebang sembarangan, sungai dijaga sebagai sumber kehidupan, dan tata ruang diperhatikan dengan keseimbangan. Alam dipandang sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga dengan sebaik-baik, bukan objek eksploitasi tanpa batas.
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah... dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (QS. Ali Imran: 191)
Ayat ini menunjukkan bahwa zikir harus melahirkan fikir. Dan dari fikir, lahirlah kebijakan yang bijak dan berpengaruh pada masyarakat.
Namun hari ini, kita melihat kondisi yang jauh berbeda.
Allah telah mengingatkan:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum: 41)
Banjir yang melanda Aceh bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga akibat dari kerusakan lingkungan yang terus terjadi. Hutan yang berkurang, sungai yang dangkal, dan pembangunan yang tidak terkendali menjadi faktor yang memperparah keadaan.
Yang paling disayangkan adalah lemahnya respons dari pemerintah. Penanganan yang lambat, minimnya langkah preventif, serta kurangnya kebijakan jangka panjang menunjukkan bahwa fikir belum benar-benar hadir dalam pengambilan keputusan untuk saat ini.
Dalam kaidah fikih yang dijelaskan oleh para ulama mazhab Imam Syafi’i disebutkan:
"Tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manutun bil maslahah"
(Kebijakan pemimpin harus didasarkan pada kemaslahatan rakyat).
Jika kebijakan tidak lagi berpihak pada keselamatan masyarakat, maka di situlah kegagalan terjadi.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah Ta'ala pada akhirat kelak.
Imam Syafi’i pernah berkata:
"Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan."
Hari ini, kita melihat bagaimana pengetahuan tentang banjir tidak diikuti dengan tindakan nyata. Sebaliknya, tindakan yang ada sering tidak sesuai pada perencanaan yang baik.
Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang jelas tentang pentingnya menjaga lingkungan:
"Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh makhluk lain, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari amal shaleh.
Banjir Aceh hari ini adalah ujian sekaligus peringatan. Ia menguji sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan yang kita jalani.
Aceh pernah besar karena kesadaran—kesadaran yang lahir dari zikir yang hidup, fikir yang tajam, dan amal shaleh yang nyata.
Hari ini, yang kita butuhkan bukan sekadar nostalgia, tetapi keberanian untuk menghidupkan kembali nilai-nilai itu.
Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan. Masyarakat harus bergerak dengan kesadaran kolektif. Dan mahasiswa, sebagai agen perubahan, harus terus menyuarakan dan mengawal.
Karena jika tidak, maka banjir ini tidak hanya akan menjadi peristiwa tahunan, tetapi akan menjadi simbol dari kegagalan kita menjaga amanah sebagai manusia.
Dan saat hal ini terjadi, yang tenggelam bukan hanya rumah-rumah warga, tetapi juga nilai dan martabat kita sebagai masyarakat Aceh.
