Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun


JAKARTA, Wartapembaruan.co.id
  —  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyoroti investasi PT Telkomsel di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang dinilai berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp4,74 triliun. 

Temuan itu muncul dalam audit atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tahun buku 2023 dan semester I-2024.

Dalam laporan hasil pemeriksaan tersebut, BPK mencatat Telkomsel telah membukukan unrealized loss atau kerugian yang belum direalisasi dari investasi jangka panjang pada GOTO sepanjang periode 2021 hingga 2024. 

Selain itu, realisasi sinergi bisnis yang menjadi dasar investasi juga disebut tidak sesuai dengan proyeksi awal manajemen.

“Sampai dengan 2024, PT Telkomsel telah membukukan kerugian sebesar Rp4,74 triliun atas investasi jangka panjang pada GOTO,” demikian dikutip dari laporan pemeriksaan BPK tertanggal 21 November 2025.

Laporan audit bernomor 64/T/LHP/DJPKN-VII/PBN.02/11/2025 itu menyebut nilai sinergi atau synergy value yang diharapkan dari integrasi ekosistem digital Telkomsel dengan Gojek dan Tokopedia belum tercapai secara optimal. 

Hingga November 2024, realisasi synergy value baru mencapai Rp6,38 triliun atau sekitar 69,81 persen dari target awal.

Padahal, proyeksi sinergi tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama Telkomsel ketika memutuskan masuk sebagai investor di GOTO.

Dalam penyusunan proyeksi itu, Telkomsel dibantu sejumlah lembaga keuangan dan konsultan internasional seperti Citi, BNP Paribas, dan Deloitte Indonesia.

BPK juga mencatat penurunan harga saham GOTO sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022 menjadi faktor utama yang menekan nilai investasi Telkomsel. 

Koreksi harga saham itu menggerus nilai investasi jangka panjang perusahaan telekomunikasi tersebut dan ikut memengaruhi kinerja keuangan PT Telkom Indonesia Tbk sebagai induk usaha.

Dalam pencatatan akuntansi, Telkomsel menggunakan metode Fair Value Through Profit or Loss (FVTPL), sehingga perubahan nilai investasi langsung tercermin dalam laporan laba rugi perusahaan.

Investasi Telkomsel di GOTO bermula pada 2020 ketika perusahaan menempatkan dana sebesar 150 juta dollar AS atau sekitar Rp2,1 triliun ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB), induk Gojek, melalui instrumen zero-coupon mandatory convertible bond (MCB).

Setelah merger Gojek dan Tokopedia pada 2021, instrumen tersebut dikonversi menjadi saham. 

Selanjutnya, Telkomsel kembali melakukan konversi 29.708 lembar saham Seri F+ senilai 300 juta dollar AS atau sekitar Rp4,28 triliun.

Dengan total investasi sekitar Rp6,38 triliun, Telkomsel menguasai sekitar 23,72 miliar saham GOTO atau setara 1,97 persen kepemilikan.

Pada awal investasi, nilai saham GOTO sempat melonjak dan memberikan keuntungan signifikan bagi Telkomsel. 

Setahun setelah IPO, nilai investasi tercatat meningkat lebih dari 320 persen secara tahunan dengan keuntungan yang belum direalisasi mencapai Rp2,49 triliun. 

Saat itu, total saldo investasi Telkomsel sempat menyentuh Rp8,89 triliun.

Namun, kondisi tersebut berbalik pada 2022 ketika harga saham GOTO terkoreksi tajam. 

Nilai investasi Telkomsel turun 75,74 persen menjadi Rp2,15 triliun setelah harga saham GOTO merosot ke level Rp91 per saham.

Selain menyoroti kerugian investasi, BPK juga mempertanyakan keputusan Telkomsel berinvestasi pada perusahaan rintisan yang masih mencatat kerugian besar. 

Menurut BPK, manajemen Telkomsel belum memitigasi secara optimal risiko usaha dari kondisi keuangan GOTO maupun pendahulunya.

Saat menawarkan investasi kepada Telkomsel pada 2020, PT AKAB tercatat membukukan rugi komprehensif sebesar Rp16,62 triliun. 

Setelah merger menjadi GOTO, perusahaan teknologi tersebut masih terus merugi sepanjang 2021 hingga 2024.

Pada 2021, GOTO mencatat rugi komprehensif sebesar Rp22,53 triliun. 

Kerugian itu meningkat menjadi Rp40,26 triliun pada 2022 dan melonjak menjadi Rp90,41 triliun pada 2023. 

Adapun pada 2024, rugi komprehensif mulai menurun menjadi Rp5,53 triliun.

“Hasil penelusuran terhadap utang dan ekuitas menunjukkan PT AKAB atau GOTO cenderung mengandalkan utang dalam menjalankan bisnis sehingga mengalami kerugian,” tulis BPK dalam laporan tersebut.

BPK juga menemukan realisasi EBITDA GOTO sejak 2019 hingga 2024 tidak sesuai dengan proyeksi manajemen dan menunjukkan deviasi yang cukup lebar. 

Kondisi itu membuat laba per saham atau earnings per share (EPS) GOTO berada di zona negatif.

“Kondisi di atas menunjukkan bagaimana transaksi investasi Telkomsel pada GOTO sampai tahun 2024 belum memberikan keuntungan bagi perusahaan,” demikian dikutip dari laporan pemeriksaan BPK. ***

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun
  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun
  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun
  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun
  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun
  • Audit BPK: Investasi Telkomsel di GOTO Berpotensi Rugi Rp4,7 Triliun