Buruknya Relasi Guru-Murid, Cerminan Pendidikan Sekuler
Oleh: Herliana, S. PD
(Pemerhati Pendidikan dan Sosial)
OPINI - Dunia pendidikan lagi-lagi mendapat alarm keras. Kasus pengeroyokan guru oleh murid baru-baru ini terjadi Kalimantan Timur. Insiden tersebut bermula dari teguran seorang guru SD terhadap murid-murid SMK yang sedang merokok. Aksi tersebut terekam dalam CCTV dan viral di media sosial. Polisi kini menetapkan tiga tersangka dalam kasus pengeroyokan tersebut dan tersangka diamankan setelah proses penyelidikan.
Kasus guru dikeroyok murid tidak bisa dipahami sekedar konflik personal, kenakalan individu, atau luapan emosi sesaat. Fenomena semacam ini terus berulang dan terjadi di banyak tempat, sehingga menunjukkan adanya masalah sistemik dalam dunia pendidikan. Ketika kekerasan mulai dianggap biasa, itu menandakan pendidikan sedang kehilangan ruh dan arah.
Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai agama dan akhlak melahirkan generasi yang berkepribadian sekuler. Mereka mungkin cerdas secara intelektual tetapi jauh dari aqidah Islam, miskin adab, mudah melawan, dan tidak memiliki rasa hormat terhadap guru.
Pendidikan sekuler difokuskan hanya pada nilai akademik, angka, dan keterampilan kerja, bukan pembentukan kepribadian. Kekerasan pun muncul sebagai ekspresi krisis moral, bukan sekadar kenakalan. Solusi sejati tidak cukup dengan sanksi hukum atau pendekatan psikologis semata.
Diperlukan perubahan mendasar pada sistem pendidikan, yakni mengembalikan pendidikan pada fungsi hakikinya: membentuk manusia berilmu sekaligus beradab, dengan nilai agama sebagai fondasi. Guru harus dimuliakan, bukan sekadar dipekerjakan, dan murid dididik untuk menghormati, bukan sekadar menuntut.
Pendidikan Karakter Butuh Islam Kaffah
Pemerintah sebenarnya sudah menyadari ada masalah dari sistem pendidikan hari ini. Buktinya pemerintah terus berupaya untuk melakukan perbaikan dengan mengkampanyekan pendidikan karakter sebagai solusi masalah krisis moral bangsa dengan menyelaraskan kecerdasan intelektual dan kekuatan akhlak generasi muda dalam menghadapi pengaruh buruk lingkungan serta era digital.
Namun, pendidikan karakter yang dimaksud tidak akan mampu meng-counter derasnya arus sekulerisme di masyarakat. Sebab, pendidikan karakter yang ditanamkan jauh dari aqidah Islam dan syariatnya. Sekalipun ada nilai keislaman yang dimasukkan namun masih sekedar aspek ritual dan hafalan. Padahal pendidikan karakter hanya bisa berjalan jika syariat Islam diterapkan secara aplikatif dalam aspek kehidupan baik individu, masyarakat dan negara.
Islam memiliki sistem pendidikan lengkap yang bertujuan melahirkan generasi berkepribadian islam sebagai hamba Allah dan Khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam harus diterapkan secara kaffah dan merupakan tanggung jawab negara bukan hanya keluarga atau sekolah.
Negara memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap materi ajar diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Kurikulum Pendidikan Islam adalah rencana pembelajaran terpadu untuk membentuk insan beriman, berilmu, dan beramal saleh dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam (Al-Qur’an, Hadits) dengan ilmu umum, mencakup tujuan pembentukan akhlak mulia, pemahaman agama, kecerdasan intelektual, dan keterampilan relevan, serta berkembang mengikuti tuntutan zaman.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Dalam Islam, guru menempati posisi mulia sebagai pewaris para nabi yang tidak hanya mentransfer ilmu (kognitif), tetapi juga membimbing akhlak dan spiritual (afektif) peserta didik. Guru teladan (uswah hasanah) mengintegrasikan ilmu dengan perilaku, bersikap ikhlas, sabar, jujur, adil, serta menjadi teladan dalam ibadah dan muamalah sehari-hari.
Firman Allah SWT dalam QS. Al Kahfi: 66
Artinya: Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
Pendidikan islam menurut Imam Al – Ghazali berfokus pada pembinaan adab, jiwa, dan kecerdasan akal untuk mencapai keridhaan Allah. Sedangkan menurut Muhammad Athiyah al – Abrasyi : sistem Pendidikan islam menekankan pada pembentukan manusia yang baik, berakhlak mulia, dan beradab.
Wallahu a’lam bish shawwab.
