" Demi Marwah Melayu LAMJ Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan SERAMBI Jambi Bergerak ke Siak Riau Perkuat budaya dan Jaringan Melayu"
TANJUNG JABUNG BARAT, Wartapembaruan.co.id – Upaya memperkuat marwah dan eksistensi budaya Melayu kembali digaungkan Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Rabu (9/9/2026), rombongan LAM Tanjab Barat bertolak menuju Kabupaten Siak, Provinsi Riau, membawa agenda strategis: visit study, Focus Group Discussion (FGD), hingga penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak.
Keberangkatan rombongan secara resmi dilepas Ketua DPRD Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Hamdani, SE, sekitar pukul 14.00 WIB di Desa Tanjung Bojo. Pelepasan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Tanjung Bojo, Rosdansyah, yang juga disebut sebagai Ketua DPD Serambi Jambi.
Dukungan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa penguatan adat dan kebudayaan Melayu tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Sebaliknya, lembaga adat dituntut mampu membangun kerja nyata, memperkuat jejaring, serta memastikan nilai-nilai adat tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Rombongan dipimpin langsung Ketua LAM Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Prof. Dr. Ahmad Ridwan, S.Ag., M.Pd.I, bergelar Temenggung Malim Jayo Sempurno Sutodilago.
Agenda utama yang akan berlangsung di Siak pada Kamis (10/9/2026) bukan sekadar kunjungan antarlembaga adat. Forum tersebut diarahkan menjadi ruang bertukar gagasan mengenai potensi peradaban Melayu, pelestarian budaya, penguatan kelembagaan adat, serta kemungkinan membangun kerja sama konkret antara Jambi dan Riau.
“Kegiatan visit study dan FGD ini dilaksanakan dalam rangka menggali potensi peradaban Melayu di Indonesia,” ujar Prof. Ahmad Ridwan dalam keterangan tertulis melalui surat resmi LAM Tanjab Barat Nomor 13/LAM-TJB/IX/2026 yang diterbitkan di Kuala Tungkal.
MoU Jangan Berhenti di Atas Kertas
Salah satu agenda yang paling disorot adalah penandatanganan MoU antara LAM Jambi Tanjab Barat dan LAMR Kabupaten Siak.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni penandatanganan dokumen. Justru, MoU harus mampu diterjemahkan menjadi program nyata, mulai dari pelestarian adat dan budaya, penguatan generasi muda Melayu, pengembangan kajian sejarah dan kebudayaan, hingga penguatan peran hukum adat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tantangan terbesar kebudayaan Melayu bukan hanya hilangnya tradisi, tetapi juga semakin jauhnya generasi muda dari akar sejarah dan identitas budayanya.
Karena itu, pertemuan LAM Tanjab Barat dengan LAMR Kabupaten Siak menjadi momentum penting untuk menguji sejauh mana lembaga adat mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Semboyan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, “Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan”, pun diharapkan tidak sekadar menjadi slogan. Semangat tersebut harus diwujudkan melalui langkah bersama antara pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh masyarakat, akademisi, serta generasi muda.
Menjaga Marwah Melayu di Tengah Zaman
Langkah LAM Jambi Tanjab Barat menuju Siak membawa pesan yang lebih besar: marwah Melayu tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dijaga, dikaji, diwariskan, dan diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.
Jaringan antarlembaga adat Jambi dan Riau juga diharapkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat hubungan kebudayaan dua daerah yang memiliki akar sejarah Melayu yang kuat.
Kini perhatian publik tertuju pada hasil kunjungan tersebut. Apakah pertemuan di Siak hanya akan menghasilkan dokumentasi dan MoU, atau benar-benar melahirkan program konkret yang memberikan dampak bagi masyarakat?
Jawabannya akan terlihat dari langkah setelah rombongan kembali ke Tanjung Jabung Barat.
Sebab menjaga marwah Melayu bukan sekadar berbicara tentang masa lalu, tetapi memastikan identitas Melayu tetap hidup dan memiliki masa depan.
(Jurnalis: Dedi Ariyanto – Kabiro)