Di Balik Ladang Jagung dan BUMDes yang Terlelap, Tim Ekspedisi Patriot UI Temukan Potensi Besar Rasau Jaya untuk Bangkit

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia kepada pemerintah Desa Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya Satu, Rasau Jaya Dua, Rasau Jaya Tiga, Bintang Mas, dan Pematang Tujuh pada 11–13 Agustus 2026.
Kubu Raya, Kalimantan Barat — Di sepanjang jalan penghubung antardesa di Kecamatan Rasau Jaya, hamparan sawah, kebun jagung, hingga pohon pinang dan sawit menjadi pemandangan yang mudah dijumpai. Di balik lanskap pertanian yang subur tersebut, enam desa di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, ternyata menyimpan kondisi yang hampir serupa: potensi ekonomi yang besar, namun kelembagaan yang menaunginya belum sepenuhnya hidup.
Kondisi tersebut terungkap dari audiensi dan wawancara yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia kepada pemerintah Desa Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya Satu, Rasau Jaya Dua, Rasau Jaya Tiga, Bintang Mas, dan Pematang Tujuh pada 11–13 Agustus 2026. Kegiatan lapangan tersebut dilakukan oleh enam anggota Tim Ekspedisi Patriot UI, yaitu Fahmi, Ranum Wanudya Yunas, Sri Indriani, Adia Reza Khaleda, Sela Viviyani, dan Bani Mukti, yang turun langsung ke enam desa untuk melakukan audiensi, wawancara, observasi awal, serta menggali berbagai potensi dan kebutuhan masyarakat desa.
Sebelum melaksanakan program pendampingan, tim lebih dulu duduk bersama kepala desa dan perangkat desa untuk memahami denyut ekonomi, pelayanan publik, dan kesiapan digital di masing-masing wilayah. Dari audiensi tersebut, terpetakan bahwa setiap desa memiliki warna komoditasnya sendiri: padi dan jagung manis menjadi andalan di Rasau Jaya Umum dan Rasau Jaya Satu, pepaya dan sawit tumbuh subur di Rasau Jaya Dua, sementara pinang yang telah diolah menjadi sirup dan kopi menjadi ciri khas Pematang Tujuh. Sekilas terlihat beragam, namun benang merahnya sama, seluruh desa bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan sebagai sumber penghidupan utama warganya.
Sayangnya, potensi yang melimpah itu belum selalu diimbangi oleh kelembagaan ekonomi yang kokoh. BUMDes di Desa Rasau Jaya Dua, misalnya, sempat aktif membagi hasil kepada desa pada 2019, tak lama setelah berdiri pada 2016, namun kini “tidur panjang” karena persoalan kepengurusan. Di Bintang Mas, kondisi serupa terjadi setelah pengurus BUMDes memilih mengundurkan diri demi mencari penghasilan yang lebih pasti. Sementara di Rasau Jaya Umum, BUMDes justru tengah menghadapi persoalan yang lebih pelik, yakni dugaan penyalahgunaan aset oleh pengurus sebelumnya yang telah dilaporkan ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Adapun di Pematang Tujuh, KDMP sudah memiliki pengurus, tetapi belum memiliki gerai untuk benar-benar beroperasi.
Di tengah bayang-bayang kelembagaan yang belum optimal itu, sejumlah kabar baik tetap tumbuh dari akar rumput. Salah satu UMKM di Rasau Jaya Dua, Keripik Aqila, berhasil memperluas pasarnya hingga terdaftar di Google Maps, sebuah pencapaian kecil yang menjadi kebanggaan desa. Di Rasau Jaya Tiga, semangat bertani mendapat sokongan konkret berupa bantuan alat pertanian seperti perontok padi dan power thresher, sekaligus usulan program pertanian yang diperjuangkan lewat anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya. Sementara itu, Rasau Jaya Umum tercatat pernah menyabet predikat juara pertama pelayanan publik terbaik dan telah mengandalkan aplikasi Si Pemuda untuk mempercepat layanan administrasi kependudukan warganya.
Kesenjangan yang juga mencolok terlihat dari sisi digital. Rasau Jaya Satu dan Rasau Jaya Tiga sudah cukup lincah mengelola Instagram, TikTok, Facebook, bahkan situs desa sejak masa pandemi Covid-19, lengkap dengan tim pengelola media yang rutin mendokumentasikan kegiatan. Namun tidak semua desa berada di titik yang sama. Di Pematang Tujuh, promosi potensi desa untuk saat ini masih mengandalkan percakapan grup WhatsApp antar-RT dan RW, sementara desa lain seperti Bintang Mas dan Rasau Jaya Dua bahkan mengaku akun media sosialnya sempat dibuat namun terbengkalai karena tidak ada yang secara khusus mengelola.
Rangkaian temuan itulah yang kemudian menjadi bekal Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 dalam merancang program pendampingan, termasuk pelatihan perdana mengenai pelayanan prima dan digitalisasi untuk promosi potensi desa yang telah dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 lalu.
Bagi desa-desa yang telah dikunjungi, kehadiran tim bukan sekadar kegiatan lapangan semata. Sekretaris Desa Rasau Jaya Tiga, Ibnu, berharap pendampingan ini menghasilkan kajian yang dapat digunakan desa sebagai bahan mengajukan program pembangunan kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Sementara itu, Sekretaris Desa Pematang Tujuh, Ridwan, menaruh harapan sederhana namun mendasar, yakni adanya perubahan nyata di desa dan bertambahnya jumlah pelaku usaha UMKM.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Siti Fatimah, yang merupakan Dosen Sekolah Vokasi Universitas Indonesia, menilai bahwa memahami kondisi riil di setiap desa menjadi kunci sebelum program pendampingan dijalankan. Menurutnya, setiap desa punya karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang diberikan pun tidak bisa disamaratakan.
“Tim ingin hadir dengan pemahaman yang utuh terhadap kondisi masyarakat, bukan sekadar menjalankan program yang dirancang dari atas meja. Dengan turun langsung ke desa dan mendengarkan berbagai aspirasi dari pemerintah desa serta masyarakat, kami berharap pendampingan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan setiap desa,” ujarnya.
Ia berharap, sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat yang terjalin sejak proses audiensi ini dapat terus berlanjut, sehingga potensi besar yang dimiliki enam desa di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya benar-benar dapat dikelola secara berkelanjutan, bukan hanya sekadar dipetakan.

