Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan Efektivitas Penggunaannya

Raihan Al Afif ( Sekretaris Direktur LEMI PB HMI 2024-2026)

Jakarta, Wartapembaruan.co.id
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah kini menuai kritik tajam seiring lonjakan anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah. Sejumlah pihak mempertanyakan efektivitas, transparansi, serta arah kebijakan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan gizi nasional.

Pemerintah terus meningkatkan anggaran MBG dari sekitar Rp71 triliun dalam APBN 2025 menjadi sekitar Rp99 triliun, bahkan ditargetkan melonjak hingga Rp335  triliun pada 2026.

“Besarnya anggaran tidak otomatis menjamin keberhasilan program. Yang lebih  penting adalah desain kebijakan dan sistem pengawasannya,” ujar Raihan selaku Sekdir 

LEMI PB HMI tersebut.

Selain itu, kritik juga diarahkan pada prioritas anggaran pemerintah. Di tengah kebutuhan mendesak di sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar, alokasi besar untuk MBG dinilai berpotensi menggeser fokus pembangunan yang lebih strategis.

Di tingkat individu, anggaran ditetapkan sekitar Rp15.000 per anak per hari, namun  realitasnya hanya sekitar Rp8.000–Rp10.000 yang benar-benar digunakan untuk bahan makanan, sementara sisanya untuk operasional dan distribusi.

“Jika dari Rp15 ribu hanya sebagian kecil untuk bahan makanan, maka yang perlu  dipertanyakan adalah struktur biaya dan efektivitasnya,” ujar seorang ekonom kebijakan publik". Papar Sekdir LEMI PB HMI.

Selain itu kritik juga diarahkan ke pengadaan 21.801 unit motor listrik oleh Badan Gizi Nasional, langkah ini dianggap terkesan terburu-buru dan tidak mencerminkan empati  terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

“Pengadaan ini membebani anggaran negara, jika 21 ribu motor di kalikan harga per 

unit Rp. 42 Juta (diakui BGN) angkanya bisa mencapai triliuanan rupiah. Dasar sebesar ini 

jauh lebih mendesak untuk dibelikan bahan pangan daripada motor listrik yang belu tentu bisa beroperasi di seluruh pelosok”, tegasnya.

Selain itu, Raihan selaku Sekdir LEMI PB HMI menyoroti adanya indikasi penunjukan langsung dalam paket pengadaan tersebut.  “ Ya tentu metode ini sangat rentan  terhadap praktik, kolusi dan menyebabkan harga tidak kompetitif”. tutup Raihan.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya
  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya
  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya
  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya
  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya
  • Anggaran MBG Membengkak hingga Ratusan Triliun, LEMI PB HMI Pertanyakan  Efektivitas Penggunaannya