Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan USK Presentasikan Model Inovatif TaKasi-SeRa di Forum Internasional
Bangkok, Wartapembaruan.co.id — Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (USK), Imam Maulana, berhasil mempresentasikan inovasi model pendidikan berbasis sekolah bertajuk TaKasi-SeRa (Taman Edukasi Kesehatan Remaja) dalam forum internasional yang merupakan bagian dari World Class University Student Exchange Program 2026 di King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Bangkok, Thailand, pada 5–10 April 2026.
Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas negara yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas isu strategis global, khususnya dalam tema Enhancing Transboundary Resilience and Sustainable Infrastructure.
Dalam presentasinya, Imam mengangkat isu penting terkait kesenjangan dalam pendidikan kebencanaan, di mana pendekatan yang ada masih berfokus pada aspek teknis seperti evakuasi dan respons darurat, sementara dimensi kesehatan mental serta partisipasi bermakna anak dan remaja masih belum terintegrasi secara optimal dalam sistem pendidikan.
“Selama ini, pendidikan kebencanaan cenderung menitikberatkan pada kesiapsiagaan teknis. Padahal, ketahanan mental memiliki peran yang sangat krusial, terutama bagi generasi muda yang berada pada fase perkembangan psikososial,” ujar Imam dalam pemaparannya.
Sebagai solusi, Imam memperkenalkan TaKasi-SeRa sebagai model school-based youth platform yang mengintegrasikan edukasi kesehatan, kesiapsiagaan bencana, serta Psychological First Aid (PFA) melalui pendekatan kaderisasi remaja di lingkungan sekolah. Model ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga untuk membangun sistem ketahanan berbasis komunitas sekolah secara berkelanjutan.
TaKasi-SeRa sendiri telah mulai dikembangkan sejak tahun 2024 oleh organisasi kepemudaan di Aceh, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). Inisiatif ini berangkat dari kepedulian terhadap tingginya paparan risiko kesehatan pada remaja, dimulai dari isu penggunaan tembakau, kemudian berkembang ke edukasi gizi, serta kesehatan mental, sebelum akhirnya diperluas untuk mencakup kesiapsiagaan bencana dan penguatan ketahanan psikososial.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa TaKasi-SeRa merupakan model yang adaptif dan kontekstual, yang mampu merespons berbagai isu prioritas remaja secara terintegrasi. Pendekatan ini sekaligus menegaskan pentingnya melihat kesehatan, pendidikan, dan kebencanaan sebagai satu kesatuan dalam membangun ketahanan generasi muda.
Melalui pendekatan Knowledge–Skills–Simulation, program ini membekali siswa sebagai edukator sebaya, pendukung psikososial, serta responden awal dalam situasi krisis. Proses pembelajaran dilakukan melalui kombinasi kegiatan di dalam kelas dan luar kelas (in-class and out-class microteaching), sehingga memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.
Implementasi model ini juga terintegrasi dalam aktivitas sekolah sehari-hari, seperti kegiatan organisasi siswa, apel pagi, hingga kegiatan keagamaan seperti muhadarrah. Hal ini menjadikan TaKasi-SeRa tidak berdiri sebagai program tambahan, melainkan menjadi bagian dari ekosistem sekolah yang hidup dan berkelanjutan.
Hasil implementasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran emosional siswa, penguatan dukungan sebaya, serta tumbuhnya kepemimpinan remaja dalam konteks kesiapsiagaan bencana. Selain itu, sistem kaderisasi yang diterapkan memungkinkan terjadinya regenerasi secara berkelanjutan, sehingga program dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian angkatan siswa.
Imam menegaskan bahwa keberhasilan model ini terletak pada integrasi sistematis dalam struktur sekolah serta pelibatan aktif remaja sebagai subjek utama. “Ketahanan tidak dibangun untuk anak, tetapi bersama dan oleh anak. Ketika remaja diberi ruang dan peran, mereka mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungannya,” tegasnya.
Partisipasi dalam program internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan praktik baik dari Indonesia, khususnya Aceh, ke tingkat global. Hal ini juga membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam mengembangkan pendekatan pendidikan kebencanaan yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Melalui TaKasi-SeRa, diharapkan model berbasis sekolah dengan kepemimpinan remaja ini dapat direplikasi dan diadaptasi di berbagai wilayah, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.
Sebagai penutup, Imam menekankan bahwa penguatan ketahanan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kapasitas manusia, khususnya generasi muda. “Jika kita serius membangun ketahanan lintas batas yang berkelanjutan, maka investasi pada remaja melalui sistem pendidikan adalah langkah yang tidak dapat diabaikan,” pungkasnya.
Penulis,
Imam Maulana
