Skandal Inefisiensi BGN Terbuka? Rp268 Triliun Digelontorkan, LEMI PB HMI Pertanyakan Efektivitas
Jakarta, Waetapembaruan.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) kini menghadapi gelombang kritik keras. Pada 2026, pemerintah menggelontorkan anggaran jumbo hingga Rp268 triliun, bahkan menjadi salah satu pos terbesar dalam APBN. Namun di balik angka fantastis itu, muncul pertanyaan serius: apakah uang negara benar-benar bekerja, atau justru terjebak dalam skema pemborosan sistemik?
Lonjakan anggaran BGN pada 2026 tidak main-main. Dari hanya Rp71 triliun pada 2025, kini melonjak hampir 4 kali lipat menjadi Rp268 triliun. Bahkan, sebagian besar anggaran pendidikan nasional sekitar Rp223,56 triliun atau 29% dialokasikan ke BGN.
Namun, besarnya anggaran ini justru memunculkan paradoks. “Pada 2025, realisasi anggaran MBG hanya Rp51,5 triliun atau 72,5% dari pagu Rp71 triliun . Artinya, bahkan sebelum anggaran dinaikkan drastis, kapasitas penyerapan sudah menunjukkan masalah”, Ujar Sekdir LEMI PB HMI tersebut.
Kini di 2026, dengan anggaran melonjak ratusan triliun dan Program ditargetkan menjangkau hingga 60 juta lebih penerima manfaat
“Namun implementasi masih menghadapi persoalan klasik: logistik, kesiapan dapur, hingga distribusi” beber raihan
“BGN kini menjadi salah satu lembaga dengan alokasi terbesar di APBN dan mengalahkan banyak kementerian pendidikan serta menyerap lebih dari 80% dana dari fungsi pendidikan untuk MBG, apakah wajar satu program menyerap porsi sebesar itu?” tutup Raihan selaku Sekertaris Direktur LEMI PB HMI
