Konflik Iwan Pansa–Suparman Memanas, Publik: Jangan Jual Marwah Melayu!
PEKANBARU, Wartapembaruan.co.id – Konflik antara Suparman dan Iwan Pansa kian memanas dan menjadi perhatian publik di Kota Pekanbaru.
Di tengah eskalasi polemik tersebut, sejumlah kalangan mengingatkan agar perseteruan pribadi tidak menyeret nama besar marwah Melayu.
Seruan itu muncul seiring berkembangnya narasi di ruang publik yang mulai mengaitkan konflik kedua tokoh dengan isu harga diri dan kehormatan masyarakat Melayu.
Publik menilai, penggunaan simbol budaya dalam konflik personal berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh suasana.
“Jangan jual marwah Melayu untuk kepentingan konflik pribadi,” ujar seorang tokoh masyarakat Pekanbaru yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (2/5/2026).
Menurut dia, masyarakat Riau dinilai cukup dewasa untuk membedakan antara persoalan individu dengan nilai-nilai adat dan budaya.
Marwah Melayu, kata dia, merupakan prinsip luhur yang menjunjung tinggi adab, kesantunan, serta penyelesaian masalah melalui musyawarah.
Sejumlah pihak juga menyoroti latar belakang kedua tokoh tersebut.
Suparman pernah tersandung kasus korupsi suap pengesahan APBD Provinsi Riau tahun 2014 dan divonis enam tahun penjara oleh Mahkamah Agung.
Sementara itu, Iwan Pansa disebut-sebut memiliki catatan perkara pidana umum di masa lalu.
Dengan rekam jejak tersebut, publik mempertanyakan relevansi membawa konflik keduanya ke ranah identitas budaya.
“Kalau ini persoalan pribadi, sebaiknya diselesaikan secara pribadi atau melalui jalur hukum,” kata sumber tersebut.
Di media sosial, perdebatan terkait polemik ini juga terus bergulir.
Sejumlah warganet menilai narasi yang mengaitkan konflik dengan “pelecehan tokoh Melayu” cenderung berlebihan, mengingat persoalan yang terjadi dinilai sebagai perselisihan antarindividu.
Masyarakat pun berharap aparat penegak hukum dapat bersikap objektif apabila ditemukan unsur pidana.
Di sisi lain, warga meminta agar kondisi di Pekanbaru tetap kondusif dan tidak terpengaruh oleh isu yang berkembang.
Pengamat sosial di Riau menilai, konflik di kalangan elite kerap dibungkus dengan sentimen identitas untuk menarik simpati publik.
Namun masyarakat diimbau untuk tetap kritis dan tidak mudah terpengaruh.
“Yang perlu dilihat adalah substansi persoalannya, bukan label yang dilekatkan,” ujarnya.
Hingga kini, konflik antara kedua tokoh tersebut masih menjadi pembahasan hangat.
Namun, pesan yang menguat dari publik adalah pentingnya menjaga marwah Melayu agar tidak diseret ke dalam konflik yang bersifat pribadi. ***
