Jalani Arahan Prabowo untuk Rakyat, Komut Pertamina Beri Masukan Direksi Soal Penyesuaian Harga BBM
JAKARTA, Wartapembaruan.co.id — Sebuah pesan mendalam dari Presiden Prabowo Subianto menjadi kompas utama bagi jajaran petinggi PT Pertamina (Persero) dalam menentukan kebijakan energi nasional yang berpihak pada masyarakat. Memegang teguh amanah tersebut, Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, bergerak cepat memberikan masukan strategis kepada jajaran Direksi agar segera mempersiapkan eksekusi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) secara bertahap mulai awal bulan depan.
Pria yang akrab disapa Iwan Bule ini mengungkapkan kembali memori saat dirinya bersama Direktur Utama Pertamina dipanggil langsung oleh Kepala Negara di Istana beberapa waktu lalu. "Masih melekat dalam ingatan saya saat kami berdua dengan Pak Dirut dipanggil oleh Presiden Prabowo. Beliau berpesan, 'Setialah hanya kepada bangsa dan rakyat Indonesia. Setialah hanya kepada Merah Putih," tuturnya.
"Pesan itu saya maknai sebagai kewajiban mutlak untuk mengutamakan kepentingan bangsa, menjaga integritas, dan memastikan Pertamina benar-benar bekerja untuk masyarakat Indonesia," tambah Komut pertamina itu dengan nada penuh penekanan.
Sebagai bentuk konkret kepatuhan terhadap arahan Presiden untuk membela hak-hak rakyat, Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan. Iriawan meminta manajemen Pertamina untuk terus memproyeksikan struktur biaya demi menghadirkan harga yang adil bagi publik, menyusul tren melandainya harga minyak mentah dunia. "Untuk itu, kami telah memberikan masukan kepada Direksi dan terus mendorong dan proyeksikan di awal bulan depan ini diharapkan sudah mulai ada penyesuaian atau penurunan harga secara bertahap," ungkapnya.
Sinyal positif ini disampaikan mantan Penjabat Gubernur Jawa Barat tersebut usai melaksanakan ibadah shalat Jumat di Masjid Jami' Darussalam, Kuningan, Jakarta, Jumat (26/6/2026). Tampil bersahaja dengan baju koko dan kopiah hitam, Iriawan yang baru keluar dari masjid langsung disambut rentetan pertanyaan oleh awak media, terkait keluhan masyarakat yang mempertanyakan mengapa harga BBM domestik belum kunjung turun di saat pasar internasional sedang melemah.
Menanggapi kegelisahan publik, Iriawan secara runtut edukatif menjelaskan bahwa fluktuasi minyak mentah dunia tidak bisa serta-merta mengubah harga eceran di SPBU setiap harinya. Ada mekanisme formula legal, logis, dan rantai pasok yang harus dilalui.
"Pertamina menggunakan formula harga rata-rata satu bulan sebelumnya. Jadi, minyak yang kita proses dan distribusikan saat ini sebenarnya adalah hasil pembelian dengan harga rata-rata bulan lalu, yang posisinya saat itu memang masih relatif tinggi, di atas USD 80 per barel. Ada jeda waktu dalam proses pengadaan hingga produksi,” urai Iriawan secara rinci.
Ia sekaligus menepis anggapan bahwa Pertamina lamban merespons dinamika pasar global. Menurutnya, formula evaluasi berkala yang diterapkan korporasi justru menjadi instrumen pelindung konsumen agar tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem.
"Coba bayangkan kalau mekanismenya berubah setiap hari. Ketika harga minyak dunia tiba-tiba melonjak, Pertamina tidak langsung menaikkan harga hari itu juga. Ini demi melindungi konsumen dari ketakutan, antrean panjang, atau bahkan risiko kelangkaan di lapangan. Jadi, formula rata-rata ini adalah instrumen pengaman, baik saat harga naik maupun turun," tegasnya, seraya meminta masyarakat untuk sedikit bersabar.
Iriawan menambahkan, kalkulasi penurunan yang lebih signifikan baru akan terlihat penuh pada periode berikutnya. "Proyeksi baru akan terlihat pada periode bulan berikutnya, yaitu per 1 Agustus, karena saat itulah harga rata-rata bulanan kita sudah sepenuhnya menangkap momentum turunnya harga minyak dunia,” ungkapnya.
Kabar Baik dari Selat Hormuz
Di samping komitmen menurunkan beban ekonomi rakyat lewat penyesuaian harga BBM, Iriawan juga memberikan kabar baik terkait ketahanan energi nasional dari sisi logistik global. Di tengah tingginya tensi geopolitik Timur Tengah yang sempat memicu kekhawatiran, armada laut Pertamina berhasil melewati zona bahaya. "Alhamdulillah, Kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari Rabu (24/6) lalu waktu setempat dan telah mencapai titik aman," ungkap Iriawan melegakan.
Ia memastikan, Pertamina tidak pernah lengah menjaga pasokan energi untuk tanah air. Tim crisis center PIS terus memonitor situasi secara penuh selama 24 jam dengan berkoordinasi erat bersama Kementerian Luar Negeri serta KBRI di Iran.
"Sementara untuk armada lain seperti VLCC Pertamina Pride di Teluk Arab, saat ini sedang dalam persiapan bergerak dengan terus mengevaluasi perkembangan risiko serta rekomendasi internasional,” pungkas Iriawan.**
