Robert Wolter Monginsidi: Lelaki Dengan Sorot Mata Yang Tajam
Jakarta, Wartapembaruan.co.id - Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Monginsidi, adalah tokoh kesepuluh dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Republik kita adalah produk kaum muda. Dan, mesin sejarahnya digerakkan oleh kaum muda, dengan upaya kolektif, dilandasi harapan bersama. Lihat sumpahnya: soempah pemuda!
Pada 17 September 1949, Indonesia adalah Republik yang baru meretas sebuah jalan yang dinamakan kemerdekaan. Sebuah Republik yang amat belia. Kala itu hawa revolusi sedang berkobar. Pekik proklamasi berulang dan menular. Keras, dalam, puitik dan trengginas.
Dalam keadaan membara, kaum muda selalu berada di garda terdepan, untuk negeri yang dicintainya, untuk tanah kelahirannya, untuk apa yang disebut Tanah Tumpah Darahku.
Adalah Robert Wolter Monginsidi atau akrab disapa Bote, yang memiliki nama panggilan lain disebut Woce yang diberikan gurunya Sugardo. Pemuda ini memimpin pergerakan kemerdekaan melawan agresi militer Belanda di tanah Sulawesi. Seorang sejarawan yang gemar meneliti tentang Indonesia, Ben Anderson menyematkan “Revolusi Pemuda.” Dan Bote memegang peranan penting baik dalam pergerakan maupun spirit dan keberanian yang ditularkannya, bahkan sesaat menjelang kematiannya.
Bote masih berusia 24 tahun, tatkala ikut andil memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air tercintanya. Pria ini sudah kenyang pengalaman ditangkap pemerintah Belanda. Namun kali ini, diselimuti kegentingan Bote tertangkap, kali ini berbeda dari yang pernah dialaminya. Ia dijatuhi hukuman mati oleh Raad Van Justitie, pengadilan tinggi Kolonial Hindia Belanda.
Beberapa hari menjelang eksekusi hukuman mati, ia menulis sepucuk surat untuk Willy Ratulangi. Surat itu berisi kata-kata indah dan menyentuh, “Sebagai bunga yang sedang hendak mekar. Digugurkan oleh angin yang keras.”
Sebagai bunga yang hendak mekar kendati diterjang badai. Apakah ia tetap bermekaran? Itu tak lagi soal utama, laku dan lakon sejarah lebih penting dan lebih bermakna. Abadi. Menjadi telaga inspirasi.
Kisah Monginsidi keren bukan karena ia pahlawan, melainkan sebuah lakon kepahlawanan. Sebuah tindakan hebat, dahsyat, dan menyejarah.
Robert Wolter Monginsidi adalah pria hebat, sebuah nama yang takkan mati dengan kematian seorang pria. Ia senantiasa mewangi dalam sejarah.
Pada 5 September 1949, Bote menghadapi hukuman matinya dengan dingin. Itu tergambar dari sebuah surat yang ditulisnya. “Dengan bantuan Tuhan, aku menjalani hukuman mati ini. Aku tidak mempunyai rasa dendam kepada siapapun, juga tidak kepada mereka yang menjatuhkan hukuman mati ini. Tetapi aku yakin, segala pengorbanan, semua air mata dan darah yang dicurahkan akan menjadi pondasi yang kuat untuk Tanah Air Indonesia yang kita cintai ini.”
Bote menjemput kematiannya dengan gagah berani. Dihadapan regu tembak, ia tak mau memakai penutup mata. Ia memegan Alkitab di tangan kirinya dan teriakan lantang kata Merdeka sesaat peluru bersarang di tubuhnya.
Ya. Dalam Alkitab yang ia genggam, terselip secarik kertas bertuliskan, “Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan.” Sungguh sebaris kata-kata yang menggambarkan betapa luar biasanya pria ini.
Zaman kalatida ini, kita butuh sejuta pemuda bermental monginsidi. Mereka yang akan memerdekakan kembali. Mereka masih mungkin jadi patriot sejati: bukan idiot tua yang khianat.(*)
