Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa


BANDA ACEH,  Wartapembaruan.co.id
– Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pengembangan Berkelanjutan (PKMBPB) Universitas Syiah Kuala (USK) bekerja sama dengan Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) memperkuat edukasi kesehatan reproduksi remaja melalui program Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) di SMAIT Nurul Ishlah, Banda Aceh.

Program bertajuk "Pengembangan Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) sebagai Model Integrasi Layanan Kesehatan Reproduksi Siswa Berbasis Sekolah" ini dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian, Ns. Putri Mayasari, M.NS, dan diikuti para siswi SMAIT Nurul Ishlah. Kegiatan bertujuan meningkatkan literasi kesehatan reproduksi sekaligus mendukung implementasi Gerakan Sekolah Sehat (GSS) melalui penguatan edukasi kesehatan bagi remaja.

Selain penyampaian materi, peserta mengikuti diskusi interaktif, sesi tanya jawab, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman mereka terhadap kesehatan reproduksi.

Ketua Tim Pengabdian PKMBPB USK, Ns. Putri Mayasari, M.NS, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan GEN-A merupakan langkah strategis dalam memperluas akses edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja.

"Pendidikan kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini agar remaja memiliki pengetahuan yang benar, mampu menjaga kesehatan dirinya, serta memahami pentingnya menghormati hak dan batasan diri maupun orang lain," ujar Putri.Selasa (4/8/2026)

Menurutnya, melalui program TaKasi-SeRa, para siswi diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi agen edukasi bagi teman sebaya di lingkungan sekolah.

"Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi sekolah maupun peserta didik," katanya.

Sebagai mitra pelaksana, GEN-A berperan dalam pengembangan media edukasi, pelaksanaan kegiatan di sekolah, serta pendampingan selama proses pembelajaran. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas dalam menghadirkan pendidikan kesehatan reproduksi yang berkelanjutan.

Pada sesi pertama, Syarifah Bainatun Nadia menyampaikan materi mengenai pubertas dan menstruasi. Pembahasan meliputi perubahan fisik dan psikologis selama masa pubertas, siklus menstruasi, cara menjaga kebersihan organ reproduksi, serta pentingnya membangun sikap positif terhadap perubahan yang dialami remaja.

Menurut Syarifah, pemahaman mengenai pubertas dan menstruasi menjadi bekal penting agar remaja putri mampu menghadapi setiap perubahan dengan percaya diri dan tidak mudah mempercayai informasi yang keliru.

"Edukasi yang benar sejak dini akan membantu remaja menjaga kesehatan reproduksi sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka di masa mendatang," ujarnya.

Sementara itu, Ns. Rifa Nadhifatusysyarfi, S.Kep., membawakan materi mengenai privasi dan hak atas tubuh, infeksi menular seksual (IMS), serta pencegahan pelecehan seksual.

Dalam paparannya, Rifa menekankan pentingnya pemahaman mengenai batasan diri, keberanian menolak tindakan yang tidak pantas, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan apabila menghadapi kekerasan maupun pelecehan seksual.

"Pemahaman mengenai privasi dan hak atas tubuh merupakan bagian penting dari pendidikan kesehatan reproduksi," katanya.

Kepala SMAIT Nurul Ishlah Banda Aceh mengapresiasi kolaborasi antara PKMBPB USK dan GEN-A dalam menghadirkan edukasi kesehatan reproduksi bagi peserta didik. Menurutnya, perempuan merupakan pondasi penting dalam masyarakat sehingga perlu dibekali ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat sejak dini.

Dalam sambutannya, ia mengutip pesan Umar bin Khattab, "Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya."

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah.

Selama kegiatan berlangsung, para siswi terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan berbagai pertanyaan, serta berdialog langsung dengan narasumber mengenai persoalan kesehatan reproduksi yang kerap dihadapi remaja.

Salah seorang peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat. Materinya mudah dipahami dan menambah wawasan kami tentang kesehatan reproduksi," ujarnya.

Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian edukasi. Temuan tersebut menunjukkan pendekatan yang diterapkan dalam program TaKasi-SeRa efektif meningkatkan pemahaman siswi mengenai kesehatan reproduksi, mulai dari pubertas dan menstruasi hingga privasi dan hak atas tubuh, infeksi menular seksual, serta pencegahan pelecehan seksual.

Melalui kolaborasi ini, PKMBPB Universitas Syiah Kuala bersama GEN-A berharap TaKasi-SeRa dapat menjadi model integrasi layanan kesehatan reproduksi berbasis sekolah yang berkelanjutan. Program tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan inklusif, sekaligus menjadi praktik baik yang dapat diterapkan di berbagai sekolah lainnya.


Penulis: Tim Publikasi dan Pemberitaan GEN-A.


Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa
  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa
  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa
  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa
  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa
  • Kolaborasi PKMBPB USK dan GEN-A Tingkatkan Literasi Kesehatan Reproduksi Siswi Melalui TaKasi-SeRa