Tinjau Fasilitas di Jakarta, Komut Pertamina Tegaskan Tak Boleh Ada Ruang untuk Gangguan Pasokan
JAKARTA, Wartapembaruan.co.id - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan melakukan Management Walkthrough (MWT) ke sejumlah fasilitas strategis Pertamina di Jakarta, Selasa (4/8/2026), untuk memastikan keandalan operasi perusahaan di wilayah yang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian nasional tersebut. Kunjungan kerja ini menyasar tiga titik penting.
Rangkaian kunjungan diawali di Terminal LPG Jakarta, sebelum Iriawan melanjutkan peninjauan ke Fuel Terminal (FT) Tanjung Priok dan area marine. Dari sana, ia bergerak ke fasilitas Pertamina Lubricants (PTPL) dan mengakhiri rangkaian kunjungannya di kantor Regional JBB (MOR III), di mana ia turut menyapa langsung jajaran pekerja atau yang akrab disapa "perwira" serta berdialog mengenai kepemimpinan di lingkungan kerja.
Dalam kesempatan tersebut, Iriawan mengapresiasi seluruh insan Pertamina yang dinilainya menjadi garda terdepan dalam menjamin ketersediaan BBM, LPG, dan pelumas bagi masyarakat maupun sektor industri di Jakarta dan sekitarnya. "Jakarta merupakan etalase Pertamina. Keandalan operasi di wilayah ini sangat menentukan kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina. Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi gangguan pasokan maupun penurunan kualitas layanan," tegasnya.
Iriawan meminta seluruh fasilitas yang dikunjungi memiliki tingkat operational readiness yang prima. Hal ini, menurutnya, dapat dicapai melalui keandalan aset, predictive maintenance, integritas fasilitas, kecukupan stok, kesiapan sumber daya manusia, hingga sistem tanggap darurat yang teruji.
Ia juga menekankan pentingnya aspek keselamatan, kesehatan, keamanan, dan lindungan lingkungan (HSSE) sebagai budaya kerja, bukan sekadar bentuk kepatuhan administratif. "Seluruh risiko harus diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini melalui inspeksi yang konsisten, disiplin operasi, manajemen perubahan, serta kepemimpinan yang hadir di lapangan," ujarnya, seraya meminta setiap temuan dalam MWT dijadikan early warning untuk mencegah insiden. "Keberhasilan bukan diukur dari tidak adanya kecelakaan hari ini, tetapi dari kemampuan mengidentifikasi dan menghilangkan potensi bahaya sebelum menjadi insiden," imbuhnya.
Secara khusus, Iriawan meminta Regional JBB terus meningkatkan keandalan distribusi BBM melalui digitalisasi, optimasi logistik, serta koordinasi yang kuat dengan seluruh terminal dan lembaga terkait, sehingga mampu merespons dinamika permintaan secara cepat. Sementara itu, untuk Pertamina Lubricants, ia mendorong penguatan daya saing melalui inovasi produk, peningkatan kualitas, efisiensi proses, serta perluasan pasar domestik maupun internasional agar menjadi pemain pelumas kelas dunia.
Terkait Terminal LPG Jakarta, Iriawan mengingatkan fasilitas tersebut memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan pasokan energi rumah tangga dan industri. "Mengingat karakteristik LPG yang berisiko tinggi serta lokasi fasilitas yang berdekatan dengan kawasan padat penduduk, integritas fasilitas, inspeksi, pemeliharaan, kesiapsiagaan darurat, dan pengamanan operasi harus menjadi prioritas utama," tuturnya.
Lebih lanjut, Iriawan mendorong penguatan sinergi antar-subholding agar rantai pasok energi berjalan sebagai satu sistem yang terintegrasi, mulai dari pasokan, penyimpanan, distribusi, hingga pelayanan kepada pelanggan. Ia juga meminta setiap unit terus mencari peluang efisiensi, meningkatkan produktivitas, memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta membangun budaya perbaikan berkelanjutan tanpa mengurangi aspek keselamatan.
Iriawan menegaskan pentingnya integrasi dan koordinasi lintas fungsi, lintas fasilitas, serta antar-subholding dan anak perusahaan sebagai satu rantai nilai atau "One Pertamina". "Hilangkan pola kerja yang masih berjalan sendiri-sendiri dan bangun sinergi mulai dari pengadaan, produksi, penyimpanan, transportasi, distribusi hingga pelayanan kepada pelanggan," katanya.
Menurutnya, integrasi tersebut harus mampu mengoptimalkan utilisasi aset, menyelaraskan perencanaan, mengurangi duplikasi proses, meningkatkan produktivitas, serta memanfaatkan kapabilitas terbaik yang dimiliki Grup Pertamina.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan perusahaan pada akhirnya tidak hanya diukur dari terjaminnya pasokan, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan operasi yang semakin efisien. "Cost per liter BBM, cost per kilogram LPG, dan cost per liter pelumas harus terus menurun tanpa mengurangi standar HSSE, kualitas produk, keandalan operasi, maupun pelayanan kepada masyarakat. Inilah esensi Operational Excellence, memberikan nilai terbaik melalui kolaborasi, efisiensi, dan sinergi untuk memperkuat daya saing Pertamina serta mendukung ketahanan energi nasional," jelasnya.
Di akhir kunjungan, Iriawan menegaskan bahwa keandalan pasokan, operational excellence, dan penerapan HSSE merupakan fondasi utama bagi Pertamina dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. "Setiap insan Pertamina harus bekerja dengan integritas, profesionalisme, dan semangat memberikan yang terbaik bagi bangsa," pungkasnya.
