Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM


Subang, Wartapembaruan.co.id
- Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) akhirnya memenuhi undangan Gubernur Jawa Barat Deddy Mulyadi (KDM) di kediamannya Lembur pakuan Subang Selasa malam (1/9/26). Undangan yang bersifat silaturahmi kepada warga Pati yang dikomandoi Supriyono alias (Botok) berlangsung cair dan penuh keakraban.

Dialog lintas kultur antara kepala daerah dengan perwakilan masyarakat lahir dari empati sebuah nilai perjuangan. Tuntutan pengesahan UU Perampasan Aset yang disuarakan AMPB di Gedung Legislatif dianggap sebuah momentum penting mencairnya hubungan rakyat dengan wakil rakyat. 

Perjuangan Botok cs diapresiasi sebagai simbol desakan krusial persoalan korupsi yang sudah menjadi kejahatan ekonomi yang masive.  Mereka datang membawa agenda substantif yaitu korupsi yang menyumbang dampak terbesar akumulasi krisis ekonomi. 

Korupsi menjadi penyebab berkurangnya pemasukan negara dan berimbas pada kompensasi kenaikan pajak. Korupsi juga yang memporak-porandakan  niat baik program MBG menjadi lahan bagi-bagi uang APBN.

Dan korupsi pula yang menyebabkan layanan publik terkendala di meja birokrasi. 

Mengapa Harus ke KDM

Catatan menarik dari pertemuan KDM dengan AMPB salah satunya munculnya yel-yel “Pati Ora Sepele” (Pati tidak bisa diremehkan). Slogan tersebut bergema di kediaman orang nomer satu di Jawa Barat yang dikenal dekat dengan persoalan sosial. 

Muncul pertanyaan sederhana : Mengapa Botok cs ke Jawa Barat, bukan ke Ahmad Lutfie, Gubernur Jateng yang secara administratif menjadi “penguasa” di daerahnya?

Jawabannya ada pada rekam jejak kedua Gubernur yang bertetanggaan dekat. Lutfie yang cenderung beraliran elite, jarang turun ke bawah. Sementara KDM dikenal hobby blusukan saat mendalami dan menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan.

KDM menjadi spirit baru perjuangan AMPB yang berjanji akan menuntaskan tuntutannya pada 15 Desember 2026 nanti. Batas waktu yang “terpaksa” disepakati pimpinan DPR-RI untuk mengesahkan RUU Perampasan aset yang mandeg bertahun-tahun menjadi UU. 

Aktifitas politik selalu penuh bahasa simbolis. KDM mengundang kelompok masyarakat yang sedang “naik daun” menjadi bentuk keberpihakan. Sementara AMPB memilih memenuhi undangan KDM diantara antrian undangan dengan sosok lain didefinisikan sebagai anak ayam bertemu induknya.

Botok cs tidak sedang berpolitik, namun dia berjuang di ranah yang kental dengan aroma politik. Kedatangan dan kepulangannya usai diterima pimpinan DPR yang kemudian berbuntut rusuh, juga melahirkan plot twist. 

Pertemuan KDM dengan AMPB menjadi momentum biasa jika dilihat dari prespektif empati. Tapi menjadi luar biasa ketika KDM jeli memanfaatkan celah potensi dukungan akar rumput.

Kita barangkali lupa, bahwa gerakan reformasi 98 dibangun dari mimbar bebas di jalan Diponegoro 58. Sebuah ruang orasi bebas yang disediakan untuk menyuarakan kegelisahan akar rumput dari berbagai penjuru. 

Reformasi jilid 2 barangkali masih di angan-angan, tapi setidaknya rumah Lembur Pakuan sudah mengawalinya dengan menyediakan ruang diskusi dan pertemuan berbagai aliran anak sungai. 

Usai Pati berikutnya ojol dan buruh ?

---

Dahono Prasetyo -- Litbang Demokrasi

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM
  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM
  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM
  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM
  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM
  • Yel-Yel “Pati Ora Sepele” Menggema di Rumah KDM