BREAKING NEWS
 

31 Tahun Janji Kosong? Warga Beliti Jaya Tagih 300 Hektare ke PT Djuanda Sawit Lestari


MUSI RAWAS, Wartapembaruan.co.id
– Aroma pengingkaran kesepakatan lama kembali menyeruak. Warga Desa Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, menuding PT Djuanda Sawit Lestari (PT DSL) mengabaikan kesepakatan alokasi lahan selama 31 tahun.

Pada Sabtu, 14 Februari 2026, Forum Masyarakat Penyelamat Lahan mendatangi perusahaan untuk menagih realisasi perjanjian tertanggal 10 Oktober 1995. Dalam berita acara tersebut, perusahaan disebut menyepakati penyediaan 300 hektare lahan bagi 150 Kepala Keluarga (KK) pecahan non-transmigrasi—masing-masing dua hektare—di sebelah barat Desa Beliti Jaya dalam satu hamparan blok.



Namun hingga kini, lahan yang dijanjikan disebut masih dikuasai dan ditanami kelapa sawit oleh perusahaan.

Ketua Forum, Purwanto, menegaskan kesabaran warga telah habis. “Tiga dekade lebih kami menunggu. Janji tinggal janji. Lahan itu masih ditanami sawit perusahaan,” tegasnya.




Ironisnya, kesepakatan 1995 tersebut melibatkan unsur pemerintah desa, kecamatan, aparat keamanan, serta pihak perusahaan. Kepala Desa Beliti Jaya, H. Sumito—yang saat kesepakatan dibuat menjabat sebagai kades dan kini kembali menjabat—membenarkan adanya perjanjian tersebut dan menyatakan lahan 300 hektare memang diperuntukkan bagi KK pecahan di luar transmigrasi.

PT DSL sendiri merupakan anak usaha dari Sinar Mas Agribusiness and Food melalui PT SMART Tbk yang bergerak di sektor perkebunan dan pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan.

Warga juga menyoroti dugaan tumpang tindih lahan, di mana sebagian kebun garapan masyarakat yang berbatasan dengan perusahaan disebut masuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan. Jika benar, kondisi ini berpotensi memicu konflik agraria yang lebih luas.

Forum Masyarakat mendesak perusahaan segera membuka dokumen, peta HGU, serta merealisasikan alokasi lahan sesuai berita acara 1995. Mereka memperingatkan, tanpa penyelesaian transparan dan adil, konflik sosial dapat meledak sewaktu-waktu.

Tiga puluh satu tahun menunggu bukan waktu yang singkat. Kini, warga Beliti Jaya menuntut kepastian—bukan lagi janji. Km,

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image