Diduga Oknum TNI Terlibat Keributan dan Diduga Senpi Rakitan di Bukit Alahu Bahar, Mulai Menemui Titik Terang
Muaro Jambi, Warrapembaruan.co.id — Simpang siur informasi terkait keributan disertai dugaan senjata api rakitan di kawasan Bukit Alahu Bahar, Simpang Gudang, Kabupaten Muaro Jambi, mulai menemui titik terang.
Sebelumnya, beredar berbagai informasi di masyarakat yang menyebut pria pembawa senjata api diduga rakitan dalam insiden tersebut merupakan anggota TNI. Nama satuan Ajendam II/Sriwijaya pun sempat mencuat dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Menindaklanjuti informasi tersebut, awak media melakukan penelusuran dan konfirmasi kepada pihak Intel Kodam II/Sriwijaya terkait identitas pria yang disebut dalam video keributan itu.
Dari hasil penelusuran, sosok yang disebut-sebut bernama “Tama” diketahui merupakan Serda Aditya Pratama, anggota Ajenrem Gapo Palembang.
Sumber internal menyebut, oknum tersebut memang kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan sebelumnya, termasuk dugaan terkait senjata api.
“Yang bersangkutan memang anggota Ajenrem Gapo Palembang. Informasinya orang Jambi dan memang sering bermasalah,” ujar sumber yang enggan disebut namanya.
Setelah dilakukan konfirmasi kepada tim Intel Kodam II/Sriwijaya, pihak internal disebut membenarkan identitas oknum tersebut.
Intel Kodam juga dikabarkan telah mengambil langkah cepat dengan menarik yang bersangkutan ke kesatuannya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
“Sudah ditarik oleh internalnya dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap sumber dari lingkungan Intel Kodam II/Sriwijaya.
Kasus ini menjadi sorotan publik lantaran sebelumnya beredar dugaan adanya aksi intimidasi terhadap sopir kendaraan pengangkut minyak di jalur Bukit Alahu Bahar dengan membawa nama institusi tertentu, termasuk aparat keamanan.
Masyarakat berharap aparat penegak hukum maupun institusi terkait dapat mengusut tuntas persoalan tersebut secara transparan agar tidak menimbulkan keresahan dan spekulasi liar di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi secara terbuka dari pihak Kodam II/Sriwijaya terkait kronologi lengkap maupun status hukum oknum anggota tersebut.
