Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur


Jakarta Timur, Wartapembaruan.co.id
– Di tengah ribuan pencari kerja yang memadati Career Fest dan Bazaar di Gedung Olahraga (GOR) Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (28/7/2026), sosok Apni Nelya (37) menarik perhatian. Perempuan yang akrab disapa Evi itu melangkah perlahan dengan bertopang pada sebuah tongkat, menyusuri area bursa kerja sambil membawa harapan besar untuk mendapatkan pekerjaan.

Tongkat yang selalu menemaninya menjadi saksi perjuangan Evi melawan penyakit autoimun yang dideritanya selama bertahun-tahun. Meski kondisi fisiknya terbatas, semangatnya untuk kembali bekerja tak pernah surut.

Sebelum divonis mengidap autoimun, Evi pernah bekerja sebagai helper di sebuah perusahaan garmen. Namun, kondisi kesehatannya yang terus menurun membuatnya harus mengundurkan diri karena sering keluar masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD).

"Ya, karena sakit aja, bukan perusahaan sih, saya mengundurkan diri karena keluar masuk IGD terus karena capek juga. Namanya autoimun kan tidak boleh terlalu capek. Mungkin namanya garmen terlalu capek," ujar Evi saat berbincang dengan tim Suku Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Kota Administrasi Jakarta Timur di GOR Ciracas.

Sejak 2019, Evi tidak lagi bekerja. Enam tahun terakhir dihabiskannya untuk menjalani pengobatan intensif akibat penyakit autoimun yang semakin parah. Dalam masa-masa sulit itu, mendiang ibunya menjadi sosok yang selalu mendampingi, mulai dari mengatur pola makan, waktu istirahat, hingga menemani pengobatan rutin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Namun, setelah sang ibu meninggal dunia, kondisi kesehatan Evi semakin menurun.

"Sempat bekerja, normal pada umumnya. Semenjak ibu saya meninggal, nge-drop semuanya. Karena almarhum ibu saya tuh benar-benar menjaga dari segi makanan, dari segi istirahat, segala macamnya dijaga," tuturnya.

Cobaan hidup yang dialaminya tidak berhenti di situ. Setelah berpisah dengan suaminya, Evi harus berjuang seorang diri membesarkan buah hatinya. Meski tetap menjalani pengobatan di RSCM, ia terus berusaha mencari pekerjaan dengan mendatangi berbagai bursa kerja.

Persaingan yang ketat ditambah keterbatasan fisik membuat perjuangannya tidak mudah. Bahkan, karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, Evi mengaku tidak memiliki tempat tinggal tetap dan harus berpindah-pindah, bahkan kerap bermalam di masjid bersama anaknya.

Meski demikian, perempuan tangguh itu tetap menyimpan harapan besar. Ia berharap semakin banyak perusahaan memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas tanpa memandang usia maupun kondisi fisik.

"Harapannya agar dipermudah aja untuk bagian para penyandang disabilitas apapun kondisinya mohon diterima dengan baik tanpa ada intimidasi atau apa pun," ungkap Evi.

Kisah Evi menjadi potret nyata bahwa semangat untuk bangkit dan bekerja dapat tumbuh di tengah berbagai keterbatasan. Kehadirannya di Career Fest Jakarta Timur bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga membawa harapan akan dunia kerja yang semakin inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur
  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur
  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur
  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur
  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur
  • Melawan Autoimun dan Keterbatasan, Evi Gantungkan Harapan di Bursa Kerja Jakarta Timur