KARHUTLA PARIT BINGKOK MAKIN MENGGANAS, 25 HEKTARE TERBAKAR — WARGA BERJUANG DENGAN PERALATAN SEADANYA
TANJABBAR, Wartapembaruan.co.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Parit Bingkok, RT 02 dan RT 03, Desa Pasar Senin, Kecamatan Pengabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Jambi, hingga Sabtu (29/8/2026) belum juga sepenuhnya padam.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah titik api masih menyala. Kepulan asap tebal membubung dan menyelimuti kawasan yang sebagian merupakan perkebunan sawit masyarakat. Luas lahan yang terbakar diperkirakan telah lebih dari 25 hektare.
Yang menjadi sorotan, kebakaran disebut warga telah berlangsung hampir satu pekan, sementara upaya pemadaman di lapangan masih banyak mengandalkan tenaga dan peralatan masyarakat secara swadaya.
Warga berjibaku menahan kobaran api agar tidak semakin meluas. Mereka juga berupaya mencegah pergerakan api dari arah wilayah Riau agar tidak terus masuk ke kawasan Tanjung Jabung Barat.
Namun, perjuangan warga menghadapi kondisi yang tidak mudah. Keterbatasan peralatan, minimnya sumber air, kekurangan tenaga, serta kondisi lahan yang kering membuat proses pemadaman semakin berat.
Warga menyebut api awalnya muncul dari wilayah Riau dan kemudian bergerak ke arah kawasan Jambi. Meski masyarakat telah berupaya membuat penghalang dan melakukan pemadaman, keterbatasan kemampuan akhirnya membuat api menjalar ke lahan masyarakat.
“Kami sudah hampir seminggu berusaha memadamkan api. Tapi sampai sekarang masih ada yang menyala,” keluh warga di lokasi.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, ketika luas kebakaran telah mencapai puluhan hektare dan api masih menyala selama berhari-hari, mengandalkan kemampuan masyarakat semata jelas bukan solusi jangka panjang.
Warga mendesak pemerintah segera mengerahkan tim pemadam karhutla, peralatan pemadaman, kendaraan operasional, serta pasokan air ke lokasi.
Bukan hanya lahan yang terancam. Asap tebal mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar. Sejumlah warga mengaku mulai merasakan dampak kabut asap, meski hingga Sabtu belum ada laporan warga yang mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan maupun puskesmas.
Situasi Parit Bingkok menjadi gambaran nyata bahwa masyarakat di kawasan perbatasan Jambi-Riau kini berada di garis depan menghadapi ancaman karhutla.
Pertanyaannya, sampai kapan warga harus berjibaku sendiri dengan api?
Jika kebakaran yang telah berlangsung hampir sepekan dan meluas lebih dari 25 hektare ini tidak segera ditangani secara serius, ancamannya bukan hanya terhadap perkebunan masyarakat, tetapi juga terhadap kualitas udara, kesehatan warga, dan potensi meluasnya titik api ke wilayah lainnya.
Pemerintah jangan menunggu api semakin besar baru bergerak. Karhutla di Parit Bingkok membutuhkan tindakan cepat, bukan sekadar pemantauan.