Prof Didik Rachbini: Ganti Gubernur BI Tak Cukup, Rupiah Masih Tertekan 5 Tahun ke Depan
Jakarta, Wartapembaruan.co.id — Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dinilai belum cukup untuk mengubah fundamental nilai tukar rupiah dalam lima tahun mendatang. Baca Berita Lokal
Ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai persoalan rupiah jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kebijakan moneter. Tekanan terhadap mata uang nasional, menurutnya, berkaitan dengan persoalan struktural yang muncul dari sektor moneter, sektor riil, ekonomi domestik hingga sektor eksternal.
“Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” ujar Didik.
Menurutnya, Indonesia memang memiliki ukuran ekonomi yang besar, pasar domestik luas, serta jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa. Namun, besarnya pasar dalam negeri tidak otomatis membuat nilai tukar menjadi kuat. Eksplorasi Budaya Asia
Aktivitas ekonomi yang terlalu bertumpu pada konsumsi domestik memang dapat mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan keuntungan perusahaan. Persoalannya, sebagian besar aktivitas tersebut hanya menghasilkan perputaran rupiah di dalam negeri.
“Pasar domestik yang besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya,” katanya.
Suku Bunga Bukan Satu-satunya Jawaban
Didik melihat BI masih menghadapi dilema dalam menggunakan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.
Ketika rupiah tertekan, kenaikan suku bunga dapat digunakan untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah dan mendorong masuknya modal asing. Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi terhadap biaya pembiayaan dunia usaha, kredit perumahan, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik.
Sebaliknya, penurunan suku bunga yang terlalu agresif berpotensi mengurangi daya tarik aset rupiah ketika investor melihat aset berbasis dolar Amerika Serikat lebih menguntungkan.
“Sentral bank yang konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” tegas Didik.
Karena itu, ia menilai persoalan rupiah tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada BI. Kebijakan moneter, menurutnya, hanya salah satu bagian dari persoalan yang lebih besar.
Rupiah Bisa Melemah Tanpa Menunggu Krisis
Tekanan terhadap rupiah juga dinilai berkaitan dengan persoalan struktural di luar sektor moneter.
Didik menyoroti kepastian hukum, korupsi, tingginya biaya transaksi serta daya saing sektor luar negeri yang belum cukup kuat. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi persepsi investor sekaligus membuat mata uang nasional rentan terhadap tekanan.
“Jadi dengan kondisi seperti ini, nilai tukar rupiah sangat rentan dan tidak perlu krisis untuk menjadikan rupiah lemah dengan sendirinya,” ujar Didik.
Menurutnya, daya tahan rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan ekonomi Indonesia menghasilkan devisa secara konsisten, bukan hanya mengandalkan perputaran ekonomi domestik. Eksplorasi Budaya Asia
Ekonomi Harus Berubah Arah
Didik juga mengkritik kecenderungan ekonomi Indonesia yang terlalu inward looking. Besarnya jumlah penduduk dan pasar domestik memang memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh, tetapi pola tersebut dapat menjadi persoalan apabila produksi nasional sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.
Dalam kondisi demikian, pertumbuhan konsumsi dan produksi domestik justru dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.
“Praktek seperti ini bisa menguntungkan tetapi tidak memberi efek positif memperkuat nilai tukar rupiah. Bahkan bisa negatif menjadikan nilai tukar melemah karena dalam proses produksinya rakus impor,” katanya.
Karena itu, ia mendorong perubahan strategi menuju ekonomi yang lebih outward looking, dengan memperkuat kegiatan ekonomi yang menghasilkan devisa.
Ekspor, investasi asing, pariwisata, serta aktivitas bisnis internasional dinilai perlu diperbesar agar sumber pendapatan luar negeri Indonesia semakin kuat. Eksplorasi Budaya Asia
“Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, maka orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar (outward looking). Indonesia memerlukan lebih banyak transaksi bisnis yang memperoleh pendapatan signifikan dari luar negeri, bukan hanya dari konsumen domestik,” tegasnya.
Cadangan Devisa Jadi Alarm
Didik juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia. Ia menyebut cadangan devisa Indonesia berada di sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Menurut Didik, angka tersebut perlu dilihat dalam konteks ukuran ekonomi Indonesia dan dibandingkan dengan sejumlah negara kawasan. Ia menyebut Singapura memiliki sekitar US$426,2 miliar dan Thailand sekitar US$279,2 miliar, sementara Malaysia yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih kecil berada di kisaran US$132,6 miliar.
“Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal,” ujarnya. Eksplorasi Budaya Asia
Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah sumber devisa besar, terutama dari komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel. Masalahnya, ketergantungan pada komoditas membuat penerimaan ekspor sangat sensitif terhadap perubahan harga di pasar global.
Ketika harga komoditas turun, pemasukan devisa ikut tertekan. Pada saat yang sama, kebutuhan terhadap dolar untuk membiayai impor bahan baku dan barang modal tetap berjalan.
Investor Asing Masih Menghadapi Risiko
Sumber devisa lainnya adalah investasi asing. Namun, menurut Didik, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya tarik investasi.
Korupsi, kepastian hukum, tingginya biaya transaksi serta persepsi risiko menjadi faktor yang dapat membuat investor membandingkan Indonesia dengan negara berkembang lainnya.
“Investor memiliki banyak pilihan pasar berkembang lainnya. Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia tidak dijaga dengan baik sehingga investasi berpikir dua tiga kali untuk masuk ke Indonesia,” jelas Didik.
Karena itu, memperkuat rupiah membutuhkan pendekatan lintas sektor. Stabilitas mata uang tidak cukup hanya dijaga melalui suku bunga maupun intervensi pasar valuta asing.
Indonesia, menurut Didik, perlu membangun daya saing ekspor, memperbaiki iklim investasi, memperkuat kepastian hukum, menekan biaya ekonomi tinggi, serta menciptakan lebih banyak aktivitas ekonomi yang menghasilkan devisa. Eksplorasi Budaya Asia
“Jadi berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kondisi sektor moneter, sektor riil, sektor domestik dan sektor luar negeri di atas, maka BI lima tahun diperkirakan menghadapi kesulitan dan tidak akan bisa memperbaiki nilai tukar rupiah yang lebih stabil dan lebih kuat,” pungkasnya.
Dengan demikian, tantangan rupiah ke depan tidak hanya berada di meja BI. Dibutuhkan perubahan struktural yang lebih luas agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sekadar besar di dalam negeri, tetapi juga kuat menghasilkan pendapatan dari dunia luar.
