Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa


Kubu Raya, Kalimantan Barat
— Di tengah perkembangan Kecamatan Sungai Raya sebagai salah satu wilayah dengan jumlah desa dan penduduk terbesar di Kabupaten Kubu Raya, kehidupan masyarakat di sejumlah desa dalam kawasan transmigrasi terus bergerak dinamis. Aktivitas pertanian, perikanan, hingga usaha mikro menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus menyimpan potensi ekonomi yang masih dapat dikembangkan.

Gambaran tersebut mulai dipetakan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) 2026 melalui kunjungan ke lima desa di Kecamatan Sungai Raya yang berada dalam cakupan Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya. Lima desa tersebut meliputi Desa Limbung, Desa Kuala Dua, Desa Mekar Sari, Desa Sungai Asam, dan Desa Sungai Bulan.

Kegiatan yang berlangsung pada 26 Agustus hingga 1 September 2026 tersebut menjadi langkah awal tim untuk membangun koordinasi dengan pemerintah desa sekaligus memperkenalkan rencana pelatihan yang akan dilaksanakan di wilayah tersebut. Kunjungan tidak hanya diisi dengan penyampaian rencana kegiatan, tetapi juga dialog bersama pemerintah desa untuk memahami kondisi dan kebutuhan di lapangan, mulai dari potensi ekonomi masyarakat, pelayanan publik, tata kelola administrasi dan keuangan, hingga pemanfaatan teknologi digital. Informasi tersebut menjadi bahan penting bagi tim dalam merancang materi pelatihan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing desa.


Dalam pelaksanaan kunjungan lapangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 yang turun ke lima desa terdiri atas Fahmi, Bani Mukti, dan Sri Indriani. Ketiganya melakukan koordinasi, observasi, serta penggalian informasi bersama pemerintah desa sebagai bagian dari proses pemetaan awal kondisi dan potensi desa.

Dari lima desa yang dikunjungi, pemetaan dan pengolahan informasi hingga saat ini telah dilakukan secara lebih mendalam di Desa Kuala Dua dan Desa Mekar Sari. Sementara itu, proses koordinasi serta pendalaman data di Desa Limbung, Desa Sungai Asam, dan Desa Sungai Bulan masih terus berjalan.


Di Desa Kuala Dua, sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat. Padi, jagung, dan berbagai jenis sayuran menjadi komoditas yang banyak dikembangkan warga. Di antara komoditas tersebut, pinang memiliki posisi yang cukup menonjol karena pemasarannya telah menjangkau luar daerah dan dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menuju pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Potensi ekonomi desa juga terlihat dari berkembangnya usaha budidaya ikan nila dan lele. Aktivitas tersebut didukung oleh keberadaan berbagai kelembagaan ekonomi masyarakat, seperti BUMDes, Koperasi Desa, Gapoktan, kelompok tani, UMKM, hingga kelompok bank sampah. Keberadaan berbagai kelembagaan tersebut menjadi modal sosial sekaligus ekonomi yang dapat terus diperkuat untuk mendorong kemandirian masyarakat desa. 

Sementara itu, Desa Mekar Sari menunjukkan karakter ekonomi yang cukup kuat pada sektor hortikultura. Komoditas seperti timun dan tomat menjadi salah satu sumber penghasilan warga. Bahkan, perkembangan usaha tani di sejumlah kelompok telah mampu menciptakan lapangan kerja tambahan bagi masyarakat.

Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Usaha budidaya ikan juga menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang berkembang. Salah satu unit usaha perikanan yang ditemui tim tercatat mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp100 juta dalam satu periode panen, berdasarkan informasi yang disampaikan perangkat desa. Meski demikian, pelaku usaha masih menghadapi tantangan, terutama terkait kenaikan harga pakan yang turut memengaruhi biaya produksi.

Komoditas kelapa dan pinang turut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Mekar Sari. Di sisi lain, sejumlah UMKM telah mengembangkan produk olahan seperti keripik dan roti. Namun, sebagian usaha tersebut masih bersifat musiman sehingga penguatan pengelolaan usaha dan strategi pemasaran menjadi peluang yang dapat dikembangkan ke depan.

Di balik potensi ekonomi yang cukup menjanjikan, penguatan kelembagaan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi kedua desa. Di Kuala Dua, misalnya, BUMDes dinilai masih perlu meningkatkan konsistensi dalam pelaporan kegiatan agar informasi mengenai aktivitas dan perkembangan usaha dapat terdokumentasi secara lebih rutin dan lengkap.

Kondisi serupa juga terlihat di Mekar Sari. BUMDes tengah melakukan pembenahan agar dapat menjalankan peran secara lebih optimal. Pemerintah desa menilai tantangan yang dihadapi bukan semata-mata berkaitan dengan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia maupun kemampuan teknis, tetapi juga konsistensi pengurus dalam menerjemahkan rencana ke dalam kegiatan nyata.

Sementara itu, rencana pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Mekar Sari masih berada dalam tahap persiapan, terutama dalam menentukan lokasi, kesiapan lahan, dan kebutuhan anggaran.  Tidak hanya ekonomi, aspek pelayanan publik turut menjadi perhatian dalam kunjungan tim. Pemerintah Desa Kuala Dua dan Mekar Sari sama-sama menunjukkan komitmen untuk memberikan pelayanan yang lebih inklusif, khususnya kepada kelompok rentan seperti lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Di Mekar Sari, misalnya, pemerintah desa pernah mendampingi seorang warga lanjut usia yang mengalami kendala dalam pengurusan administrasi kependudukan. Pendampingan dilakukan hingga proses tersebut dapat diselesaikan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Praktik tersebut menunjukkan bahwa pelayanan publik di tingkat desa tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

Meski demikian, aspek aksesibilitas fisik masih menjadi ruang yang perlu diperhatikan. Fasilitas seperti jalur khusus bagi penyandang disabilitas maupun ketersediaan kursi roda di kantor desa masih belum optimal dan menjadi salah satu kebutuhan yang ditemukan di kedua desa.

Pada aspek administrasi dan pengelolaan keuangan, pemerintah Desa Kuala Dua dan Mekar Sari menyampaikan bahwa mekanisme pengelolaan keuangan desa telah mengikuti ketentuan dan format yang ditetapkan pemerintah pusat. Pembagian tugas antarperangkat desa juga telah dilakukan sesuai dengan fungsi masing-masing.

Penguatan ke depan diharapkan dapat diarahkan tidak hanya pada administrasi pemerintahan desa, tetapi juga pada tata kelola kelembagaan ekonomi, khususnya BUMDes. Pelaporan kegiatan dan pengelolaan usaha yang lebih tertib dinilai penting untuk memastikan kelembagaan ekonomi desa dapat berkembang secara profesional dan berkelanjutan. 

Sementara itu, peluang pengembangan juga terbuka pada sektor digital. Kelima desa telah memanfaatkan sejumlah platform, seperti Instagram, Facebook, dan situs resmi desa untuk menyampaikan informasi mengenai berbagai kegiatan. Namun, pemanfaatannya masih cenderung berfokus pada dokumentasi sehingga ruang untuk mengembangkan strategi komunikasi dan promosi produk unggulan desa masih cukup besar.

Kondisi jaringan internet yang relatif mendukung menjadi modal penting bagi pengembangan tersebut. Dengan dukungan konektivitas yang tersedia, media sosial dapat diarahkan tidak hanya sebagai sarana publikasi kegiatan pemerintahan, tetapi juga sebagai etalase digital untuk memperkenalkan produk pertanian, perikanan, dan UMKM kepada pasar yang lebih luas. 

Harapan terhadap rencana pelatihan pun cukup besar. Pemerintah Desa Kuala Dua berharap kegiatan pendampingan dapat membantu pengelola kelembagaan ekonomi bekerja secara lebih tertib, profesional, dan berkelanjutan. Sementara itu, Desa Mekar Sari berharap pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu mendorong lahirnya aksi dan kegiatan nyata di lapangan.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 sekaligus Dosen Vokasi Universitas Indonesia, Siti Fatimah, M.Pd., mengatakan bahwa proses koordinasi dan penggalian informasi menjadi bagian penting sebelum pelatihan dilaksanakan. Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik, potensi, serta tantangan yang berbeda. Karena itu, materi dan pendekatan pelatihan perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Koordinasi awal ini penting untuk memahami kebutuhan masing-masing desa. Kami tidak ingin pelatihan hanya bersifat umum, tetapi dapat benar-benar menyesuaikan dengan potensi dan persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujar Siti Fatimah.

Ia menambahkan bahwa kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi tim untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pemerintah desa dan masyarakat. Bagi tim, proses pendampingan tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian program, tetapi perlu dibangun melalui komunikasi dan kolaborasi sejak tahap awal. Sinergi tersebut diharapkan dapat terus terjaga hingga rangkaian pelatihan selesai. Dengan memahami kondisi desa secara langsung, Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 optimistis potensi ekonomi dan sumber daya masyarakat di Kecamatan Sungai Raya dapat dikembangkan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Hasil pemetaan dari seluruh desa nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun rangkaian pelatihan yang lebih kontekstual, sehingga program yang dijalankan tidak hanya hadir sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kapasitas, kelembagaan, dan kemandirian masyarakat desa.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa
  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa
  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa
  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa
  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa
  • Menyambangi Lima Desa di Sungai Raya, Tim Ekspedisi Patriot UI Buka Ruang Kolaborasi untuk Penguatan Desa