Dorong Ekonomi Sirkular Desa, Universitas Indonesia Kenalkan Teknologi Ekstruder untuk Pengolahan Sampah Plastik di Desa Tembok
Teknologi Ekstruder Diperkenalkan sebagai Upaya Hilirisasi Pengolahan Sampah Plastik
BULELENG – Upaya mendorong pengelolaan sampah plastik yang lebih produktif dan berkelanjutan terus dilakukan melalui program Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia di Desa Tembok, Kabupaten Buleleng, Bali. Pada Rabu (4/11/2026), tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia melanjutkan kegiatan edukasi yang sebelumnya dilaksanakan pada Senin (2/11/2026), dengan berfokus pada pengenalan dan praktik penggunaan mesin ekstruder sebagai teknologi pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai guna dan ekonomis. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah dalam mendukung hilirisasi pengolahan sampah serta pengembangan ekonomi sirkular berbasis potensi dan sumber daya lokal desa.
Komitmen Universitas Indonesia dalam Mendorong Keberlanjutan Program
Program Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia di Desa Tembok, Kabupaten Buleleng, merupakan bentuk pelaksanaan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Program ini didukung oleh Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong pemberdayaan masyarakat dan pengembangan lingkungan yang berkelanjutan.
Kegiatan pada Rabu (4/11/2026) diawali dengan sambutan Siti Fatimah, M.Pd., dosen Program Studi Administrasi Perkantoran, Departemen Administrasi dan Bisnis Terapan, Sekolah Vokasi Universitas Indonesia, selaku Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan, penandatanganan berita acara serah terima mesin ekstruder beserta komponen pendukungnya, serta demonstrasi dan praktik pengolahan limbah plastik.
Dalam sambutannya, Siti Fatimah menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Indonesia tidak hanya berfokus pada pelatihan dan penyediaan teknologi, tetapi juga bertujuan membangun kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendorong pengelolaan limbah plastik yang berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Desa Tembok.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan singkat selama dua hari ataupun penyerahan mesin ekstruder. Keberhasilan program justru ditentukan oleh bagaimana teknologi ini dapat terus dimanfaatkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh elemen masyarakat Desa Tembok agar program pengolahan limbah plastik ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Siti Fatimah.
Lebih lanjut, Siti Fatimah menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi dan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dikembangkan di Desa Tembok. Menurutnya, inisiatif positif yang telah berjalan merupakan modal penting untuk memperkuat penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa.
“Berbagai inovasi dan langkah baik yang telah dilakukan Pemerintah Desa Tembok bersama masyarakat patut kita apresiasi. Namun, keberlanjutan program tidak dapat hanya bertumpu pada kepala desa atau pemerintah desa. Diperlukan partisipasi aktif, rasa memiliki, dan tanggung jawab bersama dari seluruh masyarakat agar setiap inovasi yang telah dibangun dapat terus berkembang dan memberikan manfaat dalam jangka panjang,” tambahnya.
Siti Fatimah juga menekankan bahwa kehadiran Universitas Indonesia di Desa Tembok merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang mengedepankan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kehadiran kami dari Universitas Indonesia bukan semata-mata untuk menyerahkan mesin ekstruder, tetapi juga untuk membangun sinergi antara perguruan tinggi, sivitas akademika, pemerintah desa, dan masyarakat. Kami berharap kolaborasi ini menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengetahuan, mengembangkan inovasi, serta bersama-sama mencari solusi atas persoalan lingkungan. Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya ketika mesin dapat dioperasikan, melainkan ketika masyarakat mampu mengelolanya secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi maupun lingkungan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Siti Fatimah, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai mitra strategis masyarakat dalam menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Melalui kolaborasi tersebut, program pengabdian kepada masyarakat diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengolahan limbah plastik, tetapi juga memperkuat kemandirian desa, membuka peluang ekonomi produktif, dan mendukung terwujudnya Desa Tembok yang lebih bersih, berdaya, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Indonesia atas pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desanya. Ia berharap teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan peluang ekonomi masyarakat Desa Tembok.
Mengenal Teknologi Ekstruder dan Komponen Pendukung Pengolahan Plastik
Pada sesi pengenalan teknologi, Tim mahasiswa yang terdiri dari Muhammad Dhafa Ardilinata, Dennis Oktavianus Christiawan, dan Fahmi menjelaskan bahwa mesin ekstruder merupakan alat yang bekerja dengan memanfaatkan pemanasan untuk melunakkan atau melelehkan plastik, kemudian mendorong material tersebut melewati nosel atau cetakan (mold) hingga menghasilkan bentuk tertentu. Teknologi ini memungkinkan plastik yang telah melalui proses pemilahan dan persiapan untuk dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk.
Selain mesin ekstruder, masyarakat juga diperkenalkan dengan sejumlah komponen pendukung dalam proses pengolahan. Filament Winder berfungsi menarik filamen plastik yang keluar dari nosel ekstruder dan melewati kolam pendingin dengan kecepatan tertentu. Selanjutnya, Filament Puller berfungsi menggulung filamen yang telah melalui proses pendinginan dan penarikan ke dalam spul atau gulungan. Adapun sistem cetakan (molding) dan kolam pendingin mendukung proses pembentukan material sebelum menjadi produk akhir.
Mengubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai Guna dan Ekonomis
Sebelum memasuki proses ekstrusi, sampah plastik perlu melalui beberapa tahapan pengolahan, yaitu pengumpulan, pemilahan, pembersihan, pengeringan, hingga pencacahan. Plastik yang telah dipersiapkan kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk diproses menjadi filamen ataupun dicetak menggunakan sistem molding.
Hasil pengolahan tersebut berpotensi dimanfaatkan menjadi berbagai produk, seperti gantungan kunci, tatakan gelas, serta bahan baku filamen untuk kebutuhan pencetakan tiga dimensi atau 3D printing. Pemanfaatan ini menunjukkan bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi material buangan, tetapi juga dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Praktik Penggunaan Alat dan Penerapan Keselamatan Kerja
Dalam demonstrasi penggunaan alat, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan operasional mesin, mulai dari menghubungkan steker ke sumber listrik, menyalakan heater, mengatur suhu pemanasan, mengaktifkan Variable Frequency Drive (VFD), menghidupkan motor, hingga memasukkan plastik ke dalam mesin secara bertahap. Pengenalan ini menjadi bagian penting agar masyarakat memahami fungsi setiap komponen sekaligus prosedur dasar pengoperasian mesin ekstruder.
Aspek keselamatan kerja turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Peserta diperkenalkan dengan penggunaan alat pelindung diri berupa sarung tangan dan masker selama proses pengolahan berlangsung. Selain itu, evaluasi penggunaan alat menghasilkan sejumlah catatan teknis untuk meningkatkan efektivitas operasional. Plastik yang telah meleleh perlu dimasukkan ke dalam media cetak secara perlahan dan bertahap, bukan sekaligus. Sementara itu, sisa plastik cair yang menumpuk di bagian atas cetakan perlu dipotong setelah proses pencetakan agar tidak menghambat pelepasan hasil cetakan.
Keberlanjutan Teknologi untuk Mewujudkan Ekonomi Sirkular Desa
Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan, turut menyampaikan bahwa penggunaan alat dalam kegiatan tersebut telah berjalan dengan baik. Harapannya, keberlanjutan pemanfaatan teknologi ini juga perlu didukung dengan perhatian terhadap keselamatan kerja dan pemeliharaan alat agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Universitas Indonesia bersama masyarakat Desa Tembok diharapkan dapat terus mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan dan pemilahan, tetapi berlanjut hingga tahap pengolahan dan pemanfaatan kembali. Kehadiran teknologi ekstruder menjadi salah satu langkah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap sampah plastik, dari material yang dianggap tidak berguna menjadi sumber daya yang memiliki potensi ekonomi.
Dengan demikian, pengenalan dan penggunaan mesin ekstruder diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan kegiatan pengolahan sampah berbasis masyarakat di Desa Tembok. Tidak hanya mendukung pengurangan limbah plastik, inisiatif ini juga membuka peluang terciptanya produk bernilai tambah dan mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang berkelanjutan di lingkungan desa.



