BREAKING NEWS
 

Pasca Banjir Pidie Jaya, Pemuda Gampong Dirikan TBM “Wareh” sebagai Ruang Baca dan Pemulihan Literasi


PIDIE JAYA, Wartapembaruan.co.id
— Upaya pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya difokuskan pada perbaikan fisik dan layanan dasar, tetapi juga menyasar penguatan kapasitas sosial dan literasi warga. Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama Natural Aceh (NA) melatih kader Taman Baca Masyarakat (TBM) di Dusun Meunasah Lhoknga, Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, sebagai bagian dari program pemulihan berbasis komunitas (Minggu, 1 Februari 2025).

TBM yang dibentuk tersebut diberi nama TBM Wareh. Nama itu dipilih melalui diskusi para kader muda setempat. Kata "wareh" yang berarti waris dimaknai sebagai harapan agar taman baca ini menjadi warisan pengetahuan bagi masyarakat desa, khususnya anak dan remaja yang terdampak situasi bencana.

Pelatihan kader TBM difasilitasi langsung oleh tim GEN-A dan Natural Aceh, dengan materi yang menekankan aspek pengelolaan operasional. Para kader dibekali pemahaman tentang sistem kerja taman baca, pembagian peran pengurus, teknik inventarisasi buku, pencatatan kunjungan, pelaporan peminjaman, pembuatan kartu anggota, hingga pendataan dan pelabelan koleksi.

Program ini menjadi bagian dari program Pendampingan Percepatan Pemulihan Desa (P3D) yang dijalankan GEN-A, khususnya melalui inisiatif Ruang Baca Harapan yang berkolaborasi dengan Natural Aceh. Pendekatan ini memposisikan literasi sebagai salah satu fondasi pemulihan sosial pascabencana, di samping layanan kesehatan dan dukungan psikososial yang telah lebih dulu dilakukan di wilayah terdampak banjir.

Project Officer Ruang Baca Harapan sekaligus Relawan GEN-A, Sarah Salsabil, mengatakan pembentukan TBM di wilayah terdampak bencana penting untuk menghadirkan kembali ruang belajar yang stabil bagi anak-anak. Menurut dia, setelah bencana, anak sering kehilangan rutinitas dan ruang aman untuk tumbuh.

“TBM ini bukan hanya tempat membaca, tetapi ruang aman untuk belajar bersama. Karena itu kadernya kami latih agar mampu mengelola secara mandiri, tertib administrasi, dan bisa mengembangkan program kegiatan literasi,” kata Sarah.

Saat ini TBM Wareh memiliki sekitar 250 buku bacaan dengan beragam kategori, mulai dari bacaan anak, pengetahuan umum, hingga buku pengembangan diri. Koleksi tersebut berasal dari donasi berbagai pihak, di antaranya Duta Pemuda Indonesia, LPDP PK 230 Tandara, serta donatur perseorangan.

Kader dan pengurus TBM seluruhnya merupakan pemuda dan remaja Gampong Masjid Tuha. Kepengurusan telah dilantik oleh Musliadi, Kaur Keuangan Gampong Masjid Tuha, yang hadir mewakili keuchik. Struktur pengurus terdiri dari pembina, ketua, sekretaris, bendahara, serta koordinator bidang koleksi, layanan, dan program-data.

Perwakilan Natural Aceh, Wahdini Husniyah Hajirah, menilai keberlanjutan taman baca sangat ditentukan oleh kepemilikan lokal. Menurut dia, model pendampingan hanya akan efektif jika pengelolaan berada di tangan masyarakat sendiri.

“Kami mendorong kader lokal menjadi penggerak utama. Kami mendampingi dari sisi sistem dan kapasitas, tetapi yang membuat TBM ini hidup adalah aktivitas para pemuda dan warga gampong,” ujarnya.

Direktur Eksekutif GEN-A, Imam Maulana, mengatakan respons pascabencana perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya menyasar kebutuhan darurat, tetapi juga pemulihan jangka menengah dan panjang. Literasi, kata dia, berperan dalam membangun kembali rasa percaya diri dan harapan komunitas.

“Setelah banjir, kita tidak cukup hanya membangun ulang bangunan. Kita juga perlu membangun ulang ruang tumbuh anak-anak. TBM seperti ini bisa menjadi pusat belajar, diskusi, dan penguatan kapasitas warga,” kata Imam.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis pemuda dipilih karena kelompok usia tersebut relatif cepat bergerak dan adaptif dalam mengelola kegiatan komunitas. Dengan pelatihan administrasi dan program, kader diharapkan mampu menjalankan TBM secara konsisten.

"Tahap selanjutnya adalah monitoring jarak jauh, serta pelatihan bertahap bagi kader agar konsisten mengelola TBMnya" tambah Imam.

Pembentukan TBM Wareh menambah rangkaian intervensi berbasis komunitas yang dilakukan di wilayah terdampak banjir Pidie Jaya. Sebelumnya, kolaborasi berbagai pihak juga menghadirkan layanan kesehatan dasar, dukungan psikososial anak, serta penguatan kebersihan lingkungan posko.

Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, kehadiran ruang baca sederhana di tingkat dusun dinilai menjadi penanda bahwa pemulihan sosial mulai bergerak dari dalam komunitas itu sendiri, dari buku, dari relawan muda, dan dari inisiatif warga menjaga pengetahuan sebagai warisan.

Penulis,

Tim Publikasi dan Pemberitaan GEN-A

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image