Tanggapan Martin J Bara, S.Ap., CPS, Aktivis Muda NTT Sumba, Mengenai Tragedi Seorang Anak SD Usia 10 Tahun di Jerebuu, Ngada
NTT, Wartapembaruan.co.id – Peristiwa pilu yang terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggugah perhatian banyak pihak. Seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR, yang masih duduk di bangku kelas IV SD, meninggal dunia setelah diduga diliputi rasa kecewa dan putus asa karena tidak memiliki uang untuk membeli buku tulis dan pena keperluan sekolah.
Malam sebelum kejadian, YBR meminta uang sebesar Rp10.000 kepada ibunya. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan. Situasi ini diduga menjadi beban emosional yang berat bagi sang anak.
Menanggapi peristiwa ini, Aktivis Muda NTT asal Sumba, Martin J Bara, S.Ap., CPS, menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus keprihatinan serius terhadap kondisi sosial yang masih dialami sebagian masyarakat di NTT.
Menurut Martin, tragedi ini bukan semata-mata persoalan keluarga, tetapi menjadi cerminan nyata bahwa masih banyak anak-anak di daerah yang hidup dalam tekanan ekonomi dan kurang mendapatkan pendampingan emosional yang memadai.
“Kita semua berduka. Ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga tamparan keras bagi kita sebagai masyarakat dan pemerintah. Seorang anak kecil seharusnya tidak dibebani oleh persoalan ekonomi hingga merasa putus asa,” ungkap Martin.
Ia menekankan pentingnya kepekaan orang tua, lingkungan, sekolah, dan pemerintah dalam memperhatikan kondisi psikologis anak-anak, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan. Anak-anak, kata Martin, sering kali memendam perasaan mereka dan tidak mampu mengungkapkan tekanan yang dialami.
Martin juga mendorong pemerintah daerah dan lembaga pendidikan untuk lebih serius memperhatikan kebutuhan dasar siswa, terutama di wilayah-wilayah terpencil. Bantuan perlengkapan sekolah, menurutnya, bukan sekadar bantuan material, tetapi dapat menjadi penyelamat bagi masa depan anak-anak.
“Buku dan pena mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi seorang anak yang tidak memilikinya, itu bisa menjadi beban pikiran yang sangat besar. Negara harus hadir memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan seperti ini,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, saling membantu, dan tidak mengabaikan tanda-tanda kesulitan yang dialami anak-anak di lingkungan mereka.
Peristiwa ini menjadi pengingat bersama bahwa persoalan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan mental anak merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan perhatian nyata dari semua pihak... ***MJB.

