Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal


ACEH BESAR, Wartapembaruan.co.id
- Di sebuah ruangan perpustakaan kecamatan yang selama ini lebih banyak berdiam dalam sepi, sebuah peristiwa kecil namun bermakna berlangsung dengan khidmat pada Selasa, 19 Mei 2026. Julian, S.Pd., Gr., seorang guru sekaligus penulis muda kelahiran Montasik, secara resmi menyerahkan enam eksemplar buku karyanya kepada Perpustakaan Kecamatan Montasik dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Pondok Baca Al-Munawwarah, Kabupaten Aceh Besar.

Kegiatan yang turut dihadiri Camat Montasik Afrizal, S.E., serta pengelola perpustakaan Jamalidiana dan Nazirah itu didahului dengan sesi diskusi literasi bersama penulis menjadikannya bukan sekadar acara serah terima buku biasa, melainkan ruang refleksi bersama tentang kondisi dan masa depan literasi di kecamatan yang berada di jantung Kabupaten Aceh Besar tersebut.

Enam buku yang diserahkan terdiri dari empat eksemplar Meututo Dalam 3 Bahasa: Aceh-Indonesia-Inggris Real-Life Conversations dan dua eksemplar Kamus Pocket 3 Bahasa: Aceh-Inggris-Indonesia. Keduanya merupakan karya Julian bersama dosennya semasa menempuh studi Strata Satu di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Banda Aceh.

Buku Meututo bukan karya biasa. Pada tahun 2022, buku percakapan trilingual yang mengintegrasikan bahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris dalam konteks kehidupan sehari-hari itu mengantarkan Julian meraih penghargaan sebagai Pemuda Berprestasi Aceh 2022. Ia kemudian diundang sebagai narasumber di sejumlah stasiun televisi dan radio lokal sebuah pencapaian yang tidak lazim bagi seorang guru muda dari kecamatan kecil di Aceh Besar.

Adapun Kamus Pocket 3 Bahasa lahir dari kerja sama dengan program AMANAH (Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat), sebuah inisiatif pemberdayaan pemuda daerah yang berada di bawah naungan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI). Kolaborasi ini menegaskan bahwa karya tersebut bukan semata produk akademis, melainkan bagian dari agenda strategis nasional dalam membangun sumber daya manusia daerah.

Julian menyampaikan perasaannya di hadapan para peserta diskusi dengan penuh kerendahan hati.


"Sebagai putra asli Montasik, merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan luar biasa bagi saya dapat menyerahkan buah karya ini ke perpustakaan kecamatan. Buku-buku ini saya dedikasikan khusus. Semoga kehadirannya dapat memperkaya koleksi literasi lokal, menjadi langkah kecil yang bermanfaat bagi kemajuan literasi dan pendidikan generasi emas di Kecamatan Montasik, serta memotivasi semua pihak untuk terus berkarya dan berprestasi," ujar Julian.

Penyerahan buku ini terjadi dalam konteks yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Perpustakaan Kecamatan Montasik, seperti banyak perpustakaan kecamatan lain di Indonesia, tengah menghadapi tekanan eksistensial koleksi yang stagnan, kunjungan yang menurun drastis, dan aktivitas yang nyaris terhenti. Camat Montasik Afrizal, S.E., yang hadir mendampingi prosesi serah terima, menyuarakan keprihatinan sekaligus seruannya secara terbuka.

"Kami berharap perpustakaan ini kembali aktif, khususnya digerakkan oleh pemuda-pemudi dan generasi muda Montasik. Diperlukan keterlibatan semua unsur pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga komunitas untuk membuka kembali perpustakaan yang sudah hampir padam ini," kata Afrizal.

Seruan Afrizal memperoleh konteks yang kuat dari data nasional. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 81 negara dalam kemampuan literasi membaca siswa. Sementara itu, laporan Perpustakaan Nasional RI tahun 2023 mencatat indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara nasional berada di angka 66,77 dari skala 100 angka yang menggambarkan masih lebarnya jurang antara potensi dan capaian nyata di lapangan.

Di tingkat daerah, kondisi tidak jauh berbeda. Banyak perpustakaan kecamatan di Aceh berdiri secara fisik, namun tidak berfungsi secara optimal akibat keterbatasan koleksi, minimnya tenaga pengelola terlatih, serta absennya program yang mampu menarik minat masyarakat terutama generasi muda. 

Dalam lanskap seperti itu, keberadaan TBM Pondok Baca Al-Munawwarah menjadi variabel penting. Sebagai lembaga literasi berbasis komunitas, TBM memiliki keunggulan adaptif yang tidak selalu dimiliki perpustakaan formal: lebih dekat secara geografis dan kultural dengan masyarakat, lebih responsif terhadap kebutuhan lokal, serta lebih lentur dalam merancang program yang kontekstual.

Jamalidiana, yang mengemban dua peran sekaligus sebagai Pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik dan Direktur TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, menyambut kehadiran buku-buku tersebut dengan penuh antusias.

"Senang sekali rasanya dengan hadirnya buku-buku ini di perpustakaan kami. Kami yakin koleksi baru ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat di Kecamatan Montasik. Kehadiran buku trilingual seperti ini sangat langka dan berharga, terlebih karena merupakan karya anak daerah sendiri. Ini membuktikan bahwa putra-putri Montasik mampu berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerahnya," ujar Jamalidiana.

Landasan hukum bagi penguatan ekosistem literasi seperti ini sejatinya telah tersedia. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengamanatkan pemerintah daerah untuk menjamin ketersediaan layanan perpustakaan yang merata dan bermutu hingga tingkat kecamatan. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 lebih lanjut mengatur standar layanan minimal yang wajib dipenuhi perpustakaan umum, termasuk di level kecamatan. Namun antara mandat regulasi dan realitas lapangan, jarak itu masih terasa lebar di banyak daerah.

Dari perspektif linguistik dan kebudayaan, sumbangan Julian pada 19 Mei 2026 itu memiliki dimensi yang melampaui sekadar penambahan koleksi perpustakaan. Bahasa Aceh, sebagai salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur signifikan di Indonesia, menghadapi tekanan nyata dari dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari generasi muda.

UNESCO mencatat bahwa sekitar 40 persen dari 7.000 bahasa di dunia terancam punah, dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia termasuk bahasa Aceh tidak luput dari ancaman tersebut. Buku Meututo dan Kamus Pocket 3 Bahasa karya Julian bukan hanya instrumen pembelajaran bahasa; keduanya berfungsi sebagai arsip hidup kosakata dan ekspresi lokal yang dapat menjadi referensi generasi mendatang, sekaligus jembatan antara identitas kultural lokal dan kebutuhan komunikasi global.

Julian diketahui juga memiliki karya ketiga berupa buku antologi yang lahir dari kerja sama dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten Aceh Besar. Karya tersebut belum dapat disertakan dalam penyerahan kali ini karena kendala teknis distribusi dari penerbit, namun direncanakan untuk menyusul pada kesempatan berikutnya.

Pada akhirnya, penyerahan enam buku oleh seorang guru muda kepada perpustakaan kecamatannya adalah peristiwa yang sederhana dalam skala, namun kaya dalam pesan. Ia menegaskan bahwa investasi dalam literasi tidak selalu membutuhkan anggaran besar atau kebijakan dari atas  kadang cukup dimulai dari satu orang, satu karya, dan satu niat yang tulus untuk membangun kampung halaman sendiri.

Yang kini dibutuhkan adalah kelanjutan dari gestur tersebut: komitmen kolektif dari pemerintah kecamatan, komunitas, lembaga pendidikan, dan tentu saja generasi muda Montasik itu sendiri, untuk mengubah momentum 19 Mei ini menjadi gerakan literasi yang berkelanjutan.

Keterangan Foto (untuk redaksi):

Julian, S.Pd., Gr. (kiri) menyerahkan buku karyanya kepada Jamalidiana selaku Pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik dan Direktur TBM Pondok Baca Al-Munawwarah, disaksikan Camat Montasik Afrizal, S.E., di Perpustakaan Kecamatan Montasik, Aceh Besar, Selasa (19/5/2026).

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal
  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal
  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal
  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal
  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal
  • Putra Asli Montasik Sumbangkan Karya Trilingual ke Perpustakaan Kecamatan, Jadi Langkah Nyata Bangkitkan Literasi Lokal