DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif


Banda Aceh, Wartapembaruan.co.id
– Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui Departemen Riset dan Informasi menggelar seminar bertajuk “The Real Impact of Drugs: Fakta, Risiko Kesehatan, dan Strategi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba.”

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi dan diskusi bagi mahasiswa untuk memahami persoalan penyalahgunaan narkoba secara lebih komprehensif, mulai dari aspek hukum dan pencegahan, dampak terhadap kesehatan fisik dan mental, hingga tantangan sosial yang dihadapi individu setelah menjalani rehabilitasi.

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari bidang yang berbeda, yakni Ketua Tim Pencegahan BNN Kota Banda Aceh Muhammad Taufan, S.I.Kom., Konsultan Psikiatri Adiksi Dr. Syahrial, Sp.KJ., serta Penyuluh Sosial Dinas Sosial Aceh Hersie Malahayatie Shandra, A.KS., M.AP.

Wakil Dekan III FEBI UIN Ar-Raniry, Fithriadi, Lc., Ph.D., mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang mengangkat isu penyalahgunaan narkoba sebagai tema seminar.

Menurutnya, narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial, dan masa depan generasi muda.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang menghadirkan kegiatan seperti ini. Persoalan narkoba bukan hanya persoalan individu ataupun persoalan hukum, tetapi merupakan persoalan bersama yang dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.”

Fithriadi menilai mahasiswa memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba.

“Mahasiswa jangan hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa harus mampu mengambil peran, dimulai dari meningkatkan pengetahuan, menjaga diri sendiri, kemudian memberikan pemahaman kepada lingkungan sekitarnya.”

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah seminar, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar.


Peredaran Narkoba di Era Digital

Pada sesi pertama, Muhammad Taufan menyampaikan materi berjudul “Perang Melawan Narkoba di Era Digital: Antara Penegakan Hukum, Pola Baru Peredaran, dan Dilema Dekriminalisasi Korban.”

Ia membahas perubahan pola penyalahgunaan dan peredaran narkoba seiring perkembangan teknologi digital. Kemudahan komunikasi dan akses informasi, menurutnya, turut menghadirkan tantangan baru dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba.

Karena itu, generasi muda dinilai perlu memiliki pengetahuan dan kewaspadaan terhadap berbagai risiko penyalahgunaan narkoba di lingkungan digital maupun kehidupan sehari-hari.

“Di era digital, pola penyalahgunaan dan peredaran narkoba juga berkembang. Karena itu, strategi pencegahan harus mampu mengikuti perubahan zaman. Generasi muda perlu dibekali pengetahuan agar tidak hanya mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengenali berbagai risiko yang ada di lingkungannya.”

Pembahasan juga mencakup aspek penegakan hukum serta persoalan dalam menentukan pendekatan terhadap korban penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, penanganan narkoba membutuhkan keseimbangan antara pemberantasan, perlindungan masyarakat, dan pendekatan yang tepat terhadap korban.

Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Sesi kedua menghadirkan Konsultan Psikiatri Adiksi Dr. Syahrial, Sp.KJ. Ia membawakan materi “Narkoba sebagai Self-Medication: Fenomena Dual Diagnosis, Kerusakan Saraf Permanen, dan Stigma Medis.”

Dalam paparannya, Syahrial menjelaskan fenomena self-medication, yaitu penggunaan zat tertentu oleh seseorang dengan tujuan mengatasi kondisi atau persoalan yang sedang dialaminya. Perilaku tersebut dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi ketergantungan dan menimbulkan persoalan kesehatan yang lebih kompleks.

Ia juga membahas dual diagnosis, yakni kondisi ketika persoalan adiksi dapat berjalan bersamaan dengan gangguan kesehatan mental tertentu. Karena itu, penanganan penyalahgunaan narkoba perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan fisik dan psikologis individu secara menyeluruh.

Selain dampak terhadap sistem saraf, stigma terhadap orang yang mengalami persoalan adiksi juga menjadi perhatian. Stigma dapat menjadi salah satu hambatan bagi seseorang untuk mencari pertolongan dan menjalani proses pemulihan.

“Kita perlu memahami bahwa adiksi merupakan persoalan yang kompleks. Seseorang yang mengalami ketergantungan membutuhkan penanganan yang tepat, bukan sekadar stigma. Karena itu, pemahaman mengenai kesehatan mental dan adiksi menjadi bagian penting dalam upaya penanganan penyalahgunaan narkoba.”»

Tantangan Setelah Rehabilitasi

Sementara itu, Penyuluh Sosial Dinas Sosial Aceh Hersie Malahayatie Shandra, A.KS., M.AP., membahas persoalan pascarehabilitasi melalui materi “Lingkaran Setan Pasca-Rehabilitasi: Mengapa Angka Relapse Tinggi dan Bagaimana Membangun Ekosistem Sosial Inklusif.”

Ia menjelaskan bahwa proses rehabilitasi bukan merupakan akhir dari perjalanan pemulihan. Setelah kembali ke masyarakat, individu masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain lingkungan pergaulan, kondisi keluarga, penerimaan masyarakat, serta stigma sosial.

Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam membantu seseorang mempertahankan proses pemulihan dan mencegah kekambuhan atau relapse.

“Rehabilitasi bukanlah akhir dari proses pemulihan. Setelah kembali ke masyarakat, seseorang tetap membutuhkan dukungan. Lingkungan yang menerima, keluarga yang mendampingi, dan masyarakat yang tidak memberikan stigma berlebihan dapat menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya kekambuhan.”

Karena itu, ia mendorong terbentuknya lingkungan sosial yang inklusif sehingga individu yang telah menjalani rehabilitasi memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara produktif.

Berangkat dari Kepedulian Mahasiswa

Ketua Departemen Riset dan Informasi DEMA FEBI UIN Ar-Raniry, Ilham Muyassar, mengatakan seminar tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan penyalahgunaan narkoba yang masih menjadi tantangan bagi generasi muda.

Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman yang lebih utuh mengenai narkoba melalui berbagai perspektif dan pengalaman para praktisi.

“Kami menginisiasi kegiatan ini karena melihat bahwa persoalan narkoba masih menjadi isu yang sangat penting untuk dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda. Kami ingin mahasiswa tidak hanya mengetahui bahwa narkoba berbahaya, tetapi juga memahami bagaimana persoalan tersebut berkembang, apa dampaknya, dan bagaimana kita dapat mengambil bagian dalam pencegahannya.”

Ilham menjelaskan, pemilihan tiga narasumber dari latar belakang berbeda dimaksudkan agar peserta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai persoalan narkoba.

“Kami sengaja menghadirkan perspektif yang berbeda, mulai dari BNN yang membahas aspek pencegahan dan penegakan hukum, perspektif psikiatri mengenai kesehatan dan adiksi, hingga Dinas Sosial yang membahas proses pemulihan setelah rehabilitasi.”

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal bagi semakin banyaknya ruang diskusi mahasiswa yang membahas persoalan sosial dan isu aktual di masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, seminar tersebut diketuai Syakira Aisy selaku Ketua Panitia, dengan Putri Asyura sebagai Sekretaris. Sementara Candra Oktora Valenta bertindak sebagai moderator dan Naya Putri Siva sebagai pembawa acara.

Seminar ditutup dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendalami materi mengenai perkembangan pola peredaran narkoba, dampak kesehatan, serta tantangan sosial setelah rehabilitasi.

Melalui kegiatan tersebut, DEMA FEBI UIN Ar-Raniry berupaya mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami bahaya narkoba, tetapi juga berperan dalam membangun kesadaran, kepedulian, dan lingkungan yang mendukung upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.


Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif
  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif
  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif
  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif
  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif
  • DEMA FEBI UIN Ar-Raniry Gelar Seminar “The Real Impact of Drugs”, Bahas Bahaya Narkoba dari Berbagai Perspektif