Partai Politik, Kekuasaan Negara, dan Bayang-Bayang Oligarki dalam Demokrasi Indonesia
Opini oleh : Chazali H. Situmorang (CHS)/Pemerhati Kebijakan Publik
Demokrasi yang Berhadapan dengan Kekuatan Modal
Jakarta, Wartapembaruan.co.id - Indonesia secara konstitusional adalah negara republik yang menempatkan kedaulatan rakyat sebagai dasar utama penyelenggaraan negara. Pemilu dilaksanakan secara berkala, rakyat diberikan hak untuk memilih pemimpin, dan partai politik menjadi salah satu instrumen utama dalam menyalurkan aspirasi masyarakat ke dalam sistem pemerintahan. Sampai disini clear.
Namun, dalam perjalanan demokrasi Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pemerintahan benar-benar dikendalikan oleh mandat rakyat, dan sejauh mana keputusan politik dipengaruhi oleh kepentingan partai politik serta kekuatan ekonomi yang berada di belakangnya?
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan politik praktis, tetapi menyangkut kualitas demokrasi itu sendiri. Demokrasi tidak cukup hanya diukur dari adanya pemilu, jumlah partai politik, atau pergantian kekuasaan secara periodik. Demokrasi juga harus dilihat dari apakah institusi negara benar-benar bekerja untuk kepentingan publik atau justru lebih banyak dipengaruhi oleh kelompok yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah oligarki semakin sering digunakan dalam diskursus politik Indonesia. Sebagian akademisi dan pengamat politik menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kondisi ketika kekuatan ekonomi yang terkonsentrasi pada kelompok tertentu memiliki pengaruh besar terhadap proses politik dan pengambilan kebijakan.
Ketika Partai Politik Menjadi Pintu Utama Kekuasaan
Dalam sistem demokrasi Indonesia, partai politik memiliki posisi yang sangat strategis. Hampir seluruh proses politik nasional, mulai dari pencalonan presiden, anggota legislatif, hingga pembentukan pemerintahan, sangat bergantung pada keputusan partai politik. Memang dalam Pilkada ada kelompok independen, tetapi jika menangpun, sulit menyelenggarakan pemerintahan jika tidak berkolaborasi dengan partai politik.
Partai politik seharusnya menjadi tempat lahirnya gagasan, kaderisasi kepemimpinan, dan perjuangan kepentingan masyarakat. Namun, masalah muncul ketika partai politik lebih banyak dipandang sebagai kendaraan kekuasaan daripada lembaga pendidikan politik rakyat.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah yang terbentuk melalui dukungan partai politik dapat menghadapi dilema. Pemerintah memperoleh mandat dari rakyat melalui pemilu, tetapi juga harus menjaga hubungan politik dengan partai pendukung yang memiliki kepentingan dan agenda masing-masing.
Ketika Partai Politik Berhadapan dengan Kekuatan Oligarki*
Tantangan lain dalam demokrasi modern adalah hubungan antara politik dan kekuatan ekonomi. Biaya politik yang tinggi sering disebut sebagai salah satu faktor yang membuat partai politik membutuhkan dukungan sumber daya besar.
Kekhawatiran yang sering muncul adalah ketika kelompok pemilik modal bukan hanya menjadi pendukung politik, tetapi juga memiliki pengaruh dalam menentukan arah kebijakan negara. Jika hal tersebut terjadi tanpa transparansi dan pengawasan yang kuat, demokrasi dapat kehilangan substansinya.
Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan juga pernah menyampaikan kritik terhadap praktik ekonomi yang dikuasai oleh kelompok yang dianggap terlalu mengejar keuntungan pribadi. Istilah "oligarki serakah" yang pernah digunakan dalam pernyataan politik menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai hubungan antara kekuasaan ekonomi dan politik.
Rakyat yang Lemah Akan Mudah Dikendalikan
Salah satu persoalan terbesar dalam demokrasi bukan hanya tentang elite politik dan pemilik modal, tetapi juga tentang kualitas partisipasi rakyat.
Demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran politik. Tanpa masyarakat yang kuat secara pendidikan dan informasi, demokrasi dapat berubah hanya menjadi prosedur memilih setiap lima tahun tanpa kemampuan rakyat untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
Bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Bangsa yang maju dibangun oleh warga negara yang memiliki daya kritis dan mampu mengawasi penyelenggara negara.
Membenahi Sistem, Bukan Sekadar Mengganti Pemimpin
Persoalan utama Indonesia bukan hanya siapa yang menjadi presiden, menteri, atau pemimpin partai. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana sistem politik dan demokrasi dibangun agar kekuasaan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Perbaikan harus dimulai dari penguatan partai politik sebagai institusi demokrasi. Partai harus kembali menjadi tempat pendidikan politik, bukan hanya mesin pemenangan pemilu.
Selain itu, transparansi pendanaan politik harus diperkuat. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana partai politik memperoleh sumber daya dan bagaimana hubungan antara kekuatan ekonomi dengan proses politik berlangsung.
Penutup: Republik Harus Kembali kepada Rakyat*
Indonesia memiliki cita-cita besar sebagai negara demokrasi yang berdaulat dan berkeadilan. Namun, cita-cita tersebut hanya dapat terwujud apabila kekuasaan benar-benar dikendalikan oleh prinsip kepentingan rakyat.
Partai politik diperlukan dalam demokrasi, tetapi partai tidak boleh menjadi satu-satunya ruang pengambilan keputusan tanpa kontrol masyarakat. Kekuatan ekonomi juga diperlukan untuk pembangunan, tetapi modal tidak boleh berubah menjadi kekuatan yang menentukan arah negara.
Kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh bagaimana sistem kekuasaan itu dibangun. Republik yang kuat adalah republik yang menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, bukan sekadar pemilih ketika pemilu datang. (Azwar)
Cibubur, 1 Oktober 2026
