News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Media Massa dalam Pembentukan Karaktet Bangsa Guna Mendukung Pertahanan Negara

Media Massa dalam Pembentukan Karaktet Bangsa Guna Mendukung Pertahanan Negara

Oleh : Warsito hadi - Analis Pertahanan Negara (APN) Kemhan

Wartapembaruan.co.id -- Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019
pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) JamalulIzza mengatakan pengguna internet meningkat didorong kehadiran infrastruktur internet cepat makin merata dan transformasi digital yang massif akibat pandemi Covid-10 sejak Maret 2020.

Indonesia sebagai salah satu negara jumlah pengguna media sosial dan internet terbesar di dunia, seharusnya bisa mentransformasikan serta memanfaatkan teknologi media dalam membangun dan meningkatkan rasa persatuan bangsa, edukasi dan literasi media, mencegah dan menangkal berita hoax serta dapat menjaga Pancasila dari rongrongan ideologi transnasional yang saat ini sangat gencar melalui media sosial dan internet.

Pembangunan tidak hanya aspek ekonomi atau fisik, namun juga aspek lainnya yaitu pembentukan watak atau karakter (character building), terkait sikap mental manusia dimana perubahan sikap mental manusia yang merupakan salah satu tujuan utama pembangunan itu sendiri. 

Permasalahan seperti korupsi, pudarnya kesetiakawanan sosial, menipisnya rasa nasionalisme, kurangnya semangat kemandirian dan sebagainya merupakan kelemahan watak atau karakter.

Dalam sistem pertahanan semesta, seperti amanat UU No.3 Tahun 2002, belanegara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara. 

Belanegara adalah sikap dan perilaku warganegara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. 

Oleh karena itu dalam menegakkan eksistensi NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka melibatkan seluruh kekuatan komponen bangsa hal ini sesuai Doktrin Sistem pertahanan rakyat semesta (Sishankamrata).

Pembangunan karakter bangsa akan memperkuat pertahanan negara hal ini sebagai Implementasi Sishankamrata, diwujudkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang menegaskan bahwa sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Didalam pembangunan karakter banyak hal yang harus dilakukan di berbagai sektor diantaranya media massa dapat berperan serta untuk membangun karakter bangsa, hal ini mengingat luasnya wilayah geografis, jumlah penduduk yang begitu besar, serta pesatnya kemajuan teknologi informasi, sehingga mudah mengakses melalui berbagai piranti dan produk yang bebas di pasar.

Media massa berfungsi sebagai saluran komunikasi, dapat menjangkau publik yang besar dan tak terbatas. Media massa secara sederhana terdiri dari media cetak (suratkabar, majalah, buku, dan lain-lain), media elektronik (televisi dan radio), dan media online. 

Beberapa fungsi media massa secara umum, pertama, saluran informasi, kedua, mendidik, ketiga, menghibur, dan fungsi keempat, yaitu melakukan kontrol sosial, yang berfungsi mengawasi jalannya pemerintahan; mengritik berbagai penyimpangan di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif; serta berbagai fenomena yang berlangsung dalam masyarakat itu sendiri.

Peran media massa dalam pembentukan karakter bangsa, dapat diwujudkan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi media. 

Dalam mendukung membangun karakter, ada beberapa cara pendekatan yang dapat dilakukan media. Menurut para ahli seperti Straubhaar & LaRose (2002), beberapa pendekatan. 

Pertama Setting the Agenda (penetapan agenda) hal ini terkalit kemampuan media untuk memilih dan menetapkan isu-isu atau berita apa yang dianggap penting, yang harus diperhatikan oleh publik, atau harus segera ditangani oleh pemerintah.

Isu yang dianggap penting itu bisa diberi porsi yang lebih besar dan penempatan yang lebih menarik perhatian khalayak, dengan memberikan tempat utama pada artikel, berita, atau program siaran, yang dianggap bisa membangun karakter bangsa ke arah yang positif, sebaliknya program siaran yang dianggap tidak mendukung pembentukan karakter bangsa maka itu tidak perlu diberi tempat utama, bahkan mungkin tidak perlu dimuat atau ditayangkan sama sekali.

Dalam pendekatan ini, media massa harus bersikap kritis dan cermat dalam menyeleksi atau memilah-milah berita, serta pesan yang mau disampaikan lewat berita itu. 

Berita atau pesan yang tidak mendukung ke arah pembentukan karakter bangsa yang kuat, maka tidak perlu disiarkan sama sekali.

Kedua Framing (Pembingkaian) para jurnalis memutuskan, bagaimana suatu berita atau peristiwa dibingkai dengan cara tertentu untuk disajikan kepada masyarakat.

Dimana pada dasarnya konstruksi berita, dibentuk dan dikemas, bukan suatu realita apa adanya sehingga obyektivitas (netralitas) dalam pemberitaan itu sebenarnya tidak benar-benar ada, namun terikat kode etik jurnalistik dima media harus sajikan fakta, bukan opini. 

Kerangka membingkai berpulang pada pilihan ke mana arah pemberitaannya sehingga disinilah media massa dapat memanfaatkan anugerah kebebasan yang sudah ada itu dengan sebaik-baiknya, untuk mendukung upaya pembentukan karakter bangsa.

Dalam mendorong peran media dalam pembentukan karakter bangsa maka langkah yang dapat dilakukan, 

Pertama perlu adanya regulasi dimana media massa harus ikut membentuk karakter bangsa dengan diwajibkan menyediakan konten (persentase jumlah program dan durasi yang dialokasikan) yang mendukung ke arah pembentukan karakter bangsa. 

Kedua, perningkatan kerjasama Humas pemerintah dengan media massa ini bagian dari strategi yang dapat membangun dan mengefektifkan pembangunan karakter bangsa dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat dan terakhir ketiga perlunya penghargaan (reward) kepada media massa dan jurnalis yang sering memuat kontens kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa.

Tags

Newsletter Signup

Silahkan isi Email anda disini untuk mengikuti berita terbaru dari Warta Pembaruan.

Posting Komentar