Transformasi Peran Humas Institusi di Era Digital dalam Melawan Buzzer
Jakarta, Wartapembaruan.co.id - Di tengah arus deras revolusi digital, peran hubungan masyarakat (humas) institusi mengalami transformasi fundamental. Tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, humas kini dituntut tampil sebagai aktor strategis dalam menjaga reputasi institusi, melawan disinformasi, serta membangun dialog publik yang sehat dan berkelanjutan.
Fenomena ini mengemuka seiring berkembangnya media daring dan media sosial yang menjadi ruang utama pertukaran informasi dan opini publik. Di sisi lain, kemajuan teknologi tersebut juga melahirkan tantangan serius berupa praktik buzzer yang kian masif dan terorganisasi, sehingga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap institusi dan media.
Buzzer dan Dinamika Pembentukan Opini Publik
Secara umum, buzzer merujuk pada individu atau kelompok akun yang bekerja secara terkoordinasi untuk menyebarkan pesan tertentu guna memengaruhi opini publik, sering kali dengan motif yang tidak transparan. Istilah ini berasal dari kata buzz yang berarti dengungan, menggambarkan bagaimana sebuah pesan dapat menyebar luas dan cepat di ruang digital.
Dalam praktiknya, buzzer terbagi ke dalam beberapa kategori. Buzzer politik berfokus pada penggiringan opini untuk menaikkan atau menurunkan pamor individu maupun institusi tertentu. Buzzer komersial bertujuan mempromosikan produk atau jasa, sementara buzzer berbasis isu (issue-based buzzer) bekerja mengangkat tema tertentu sesuai agenda yang diinginkan.
Seiring waktu, praktik buzzer berkembang menjadi industri tersendiri dengan pola kerja profesional dan struktur yang semakin rapi.
Mekanisme Pengaruh terhadap Persepsi Publik
Buzzer memengaruhi opini publik melalui berbagai mekanisme psikologis dan sosial. Salah satunya adalah bandwagon effect, yakni kecenderungan publik mengikuti arus opini yang terlihat dominan tanpa verifikasi mendalam, sehingga menciptakan ilusi konsensus sosial.
Selain itu, teknik framing dan agenda setting digunakan dengan mengulang pesan dari sudut pandang tertentu secara konsisten. Konten emosional—seperti kemarahan, ketakutan, atau simpati—juga dimanfaatkan untuk memicu emotional contagion, karena jenis konten ini lebih mudah viral dan sering kali mengalahkan logika serta fakta.
Buzzer juga mengeksploitasi confirmation bias dengan menyasar kelompok yang sudah memiliki kecenderungan pandangan tertentu, serta menciptakan false consensus melalui kesan seolah-olah sebuah opini dianut oleh mayoritas. Bahkan, tak jarang digunakan teknik layered disinformation, yakni mencampur fakta dengan informasi menyesatkan agar narasi lebih mudah diterima.
Dampak terhadap Kepercayaan Publik
Maraknya praktik buzzer berdampak signifikan terhadap kepercayaan publik. Salah satu efek paling nyata adalah menurunnya kepercayaan terhadap media arus utama akibat narasi yang menyudutkan media sebagai pihak yang dianggap memiliki agenda tertentu. Kondisi ini mendorong masyarakat beralih ke sumber informasi alternatif yang belum tentu memenuhi standar jurnalistik.
Di sisi lain, serangan buzzer yang sistematis juga berkontribusi terhadap erosi kepercayaan publik kepada institusi pemerintah. Akibatnya, muncul sikap apatis dan keterasingan publik dalam diskursus kebijakan, disertai degradasi kualitas ruang publik yang semakin dipenuhi narasi emosional dan hitam-putih.
Peran Strategis Humas di Era Digital
Dalam konteks ini, humas memiliki peran krusial dalam ekosistem komunikasi digital. Fungsi humas modern mencakup manajemen reputasi, komunikasi strategis, manajemen krisis, hubungan media, keterlibatan publik, serta advokasi internal agar kebijakan institusi mempertimbangkan kepentingan publik.
Perkembangan teknologi telah mengubah cara kerja humas secara signifikan. Komunikasi yang sebelumnya bersifat satu arah kini bergeser menjadi dialog dua arah. Respons yang dahulu terjadwal kini dituntut real-time. Humas juga tidak lagi bekerja dalam ruang terkontrol, melainkan dalam ekosistem partisipatif di mana publik ikut membentuk narasi institusi.
Strategi Humas Menghadapi Buzzer
Untuk menghadapi tantangan buzzer, humas perlu mengedepankan autentisitas pesan, transparansi proses, serta konsistensi narasi di seluruh platform komunikasi. Keterbukaan terhadap kritik dan akuntabilitas atas kesalahan justru menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Selain itu, humas dituntut mampu mengidentifikasi akar disinformasi, melakukan debunking berbasis bukti yang dapat diverifikasi, serta membingkai ulang isu secara lebih akurat dan berimbang. Pelibatan narator yang kredibel dan dihormati publik juga menjadi strategi efektif dalam menyampaikan counter-narrative.
Tanggung Jawab Kolektif
Peran humas dalam melawan buzzer bukanlah tugas yang mudah dan tidak dapat dijalankan secara sendiri. Upaya melawan disinformasi merupakan tanggung jawab kolektif yang memerlukan kolaborasi antara institusi pemerintah, sektor swasta, media, dunia pendidikan, dan masyarakat luas.
Hanya melalui komitmen bersama terhadap kebenaran, transparansi, dan integritas informasi, ekosistem digital yang sehat dan dapat dipercaya dapat terwujud.
(Alred)
Sumber : Humas MA.
