AIMI Aceh dan UPTD Puskesmas Batoh Perkuat Peran Tenaga Kesehatan Dukung Keberhasilan Menyusui
BANDA ACEH, Wartapembaruan.co.id – Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan tenaga kesehatan, keluarga, kader, dan lingkungan sekitar. Karena itu, penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Sejalan dengan tema Pekan Menyusui Dunia (PMD) 2026, berbagai pihak diajak memperluas intervensi yang telah terbukti meningkatkan keberhasilan menyusui karena ASI merupakan investasi paling hemat biaya dengan dampak besar bagi kesehatan ibu, bayi, dan kualitas generasi masa depan.
Semangat tersebut menjadi fokus peringatan Pekan Menyusui Dunia 2026 yang diselenggarakan UPTD Puskesmas Batoh bekerja sama dengan AIMI Daerah Aceh serta didukung Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, pada Jumat, 7 Agustus 2026, di UPTD Puskesmas Batoh. Kegiatan diikuti sekitar 30 bidan Puskesmas Batoh dan kader Posyandu sebagai garda terdepan dalam mendampingi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga di masyarakat.
Kepala UPTD Puskesmas Batoh, dr. Qurrata Aini, MKM, mengatakan bahwa Pekan Menyusui Dunia menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan kader agar mampu memberikan pendampingan laktasi yang lebih optimal kepada ibu dan keluarga.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr. Nuraihan, MKM, menegaskan bahwa puskesmas memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, pendampingan, dan layanan laktasi sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan sebagai bagian dari upaya mewujudkan generasi Banda Aceh yang sehat dan bebas stunting.
Pada sesi edukasi, dr. Putri Kartika Listya, Sp.KKLP, dari AIMI Daerah Aceh menjelaskan bahwa menyusui bukan sekadar memberikan makanan kepada bayi, tetapi merupakan investasi kesehatan bagi keluarga. Selain memenuhi kebutuhan gizi bayi, ASI membantu meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan ibu dan bayi. Keberhasilan menyusui dipengaruhi oleh dukungan ayah, keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, hingga lingkungan sekitar.
Ia juga mengingatkan bahwa ibu memerlukan pendampingan berkelanjutan sejak masa kehamilan, saat persalinan melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD), hingga masa nifas. Mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO), dukungan tersebut diberikan melalui serangkaian kontak layanan laktasi sejak trimester kedua kehamilan hingga setelah persalinan agar ibu mampu menyusui dengan percaya diri dan mengatasi berbagai tantangan pada awal masa laktasi.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui, di antaranya memberikan konseling kepada ibu hamil, melaksanakan IMD, mengajarkan teknik menyusui yang benar, tidak memberikan makanan atau minuman pralaktal kepada bayi baru lahir, menerapkan rawat gabung ibu dan bayi, serta melakukan pendampingan setelah ibu pulang dari fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah-langkah tersebut menjadi standar penting dalam mendukung keberhasilan ASI eksklusif di fasilitas kesehatan.
"Menyusui bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Keberhasilannya ditentukan oleh dukungan keluarga, tenaga kesehatan, kader, tempat kerja, hingga lingkungan sekitar. Ketika semua pihak hadir memberikan dukungan sejak masa kehamilan sampai ibu menyusui, maka peluang keberhasilan ASI eksklusif akan jauh lebih besar," ujar dr. Putri.
Seminar berlangsung interaktif melalui diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi bidan dan kader Posyandu saat mendampingi ibu menyusui di masyarakat. Kegiatan kemudian ditutup dengan Senam Pijat Oksitosin, yaitu teknik relaksasi sederhana yang membantu meningkatkan kenyamanan ibu menyusui sekaligus mendukung kelancaran pengeluaran ASI.
Melalui peringatan Pekan Menyusui Dunia 2026, UPTD Puskesmas Batoh bersama AIMI Daerah Aceh berharap tenaga kesehatan dan kader Posyandu semakin siap menjadi pendamping laktasi di masyarakat. Dengan dukungan yang kuat sejak masa kehamilan hingga menyusui, semakin banyak bayi diharapkan memperoleh haknya mendapatkan ASI secara optimal, sekaligus mendukung terwujudnya generasi Banda Aceh yang lebih sehat, berkualitas, dan bebas stunting.
Penulis,
Tim Divisi Komunikasi AIMI Daerah Aceh
