Dari Hasil Pemetaan ke Aksi, Tim Ekspedisi Patriot UI Perkuat Kapasitas SDM di Teluk Pakedai
Kubu Raya, Kalimantan Barat — Hasil pemetaan dan kajian Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) terhadap enam desa di Kawasan Transmigrasi Teluk Pakedai menjadi dasar dalam merancang program pendampingan pada 2026. Temuan mengenai potensi ekonomi, kondisi kelembagaan, pelayanan desa, serta kesiapan digital menjadi pijakan bagi tim untuk menyusun kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing desa.
Enam desa yang menjadi bagian dari pemetaan tersebut meliputi Desa Sungai Nipah, Sungai Deras, Arus Deras, Pasir Putih, Madura, dan Teluk Pakedai 2. Tim melakukan audiensi, wawancara, dan observasi lapangan untuk menggali potensi sekaligus memahami berbagai kebutuhan masyarakat dan pemerintah desa.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa masing-masing desa memiliki karakteristik dan komoditas unggulan yang berbeda. Desa Teluk Pakedai memiliki komoditas padi, sawit, dan pinang. Desa Sungai Nipah memiliki potensi hortikultura, sayuran, dan sawit, sementara pinang menjadi salah satu komoditas unggulan Desa Pasir Putih. Desa Madura mengandalkan komoditas pertanian dan hortikultura, sedangkan Desa Arus Deras memiliki jambu, pepaya, dan alpukat sebagai komoditas yang menjadi ciri khas. Adapun Desa Sungai Deras memiliki potensi pertanian dan sawit.
Meskipun memiliki keragaman komoditas, keenam desa tersebut memiliki kesamaan dalam struktur ekonomi masyarakat. Sektor pertanian dan perkebunan masih menjadi sumber penghidupan utama warga. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi ekonomi lokal yang dapat terus dikembangkan apabila didukung oleh kelembagaan dan tata kelola yang memadai.
Selain memetakan potensi ekonomi, tim juga menemukan sejumlah tantangan dalam pengelolaan kelembagaan ekonomi desa. Kondisi BUMDes di setiap desa menunjukkan dinamika yang berbeda. BUMDes Sungai Nipah, misalnya, sempat aktif dan memberikan hasil kepada desa pada 2021 setelah berdiri pada 2019, tetapi kemudian tidak berjalan optimal akibat persoalan kepengurusan.
Di Desa Teluk Pakedai 2, aktivitas BUMDes mengalami penurunan setelah sejumlah pengurus memilih mengundurkan diri untuk mencari sumber penghasilan yang lebih pasti. Sementara itu, Desa Pasir Putih belum memiliki BUMDes setelah rencana pembentukannya dibatalkan karena adanya kebijakan efisiensi anggaran.
Kondisi lainnya ditemukan di Desa Sungai Deras, di mana aktivitas BUMDes belum berjalan maksimal karena sebagian besar pengurus bekerja di pabrik sawit. Di Desa Madura, BUMDes telah memiliki kepengurusan, tetapi aktivitasnya masih belum optimal. Berbeda dengan desa lainnya, Pemerintah Desa Arus Deras mencoba mengembangkan BUMDes dengan menyediakan kebutuhan masyarakat, seperti pupuk, air, dan gas.
Di tengah tantangan tersebut, pemetaan juga menemukan perkembangan positif dalam pelayanan desa. Pemerintah desa di kawasan Teluk Pakedai mulai memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kemudahan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan administrasi dan informasi terkait pelayanan kesehatan mulai dilakukan melalui media daring sehingga masyarakat memiliki alternatif akses pelayanan yang lebih praktis.
Potensi ekonomi desa juga telah memiliki akses ke pasar di luar wilayah desa. Komoditas hortikultura dan sayuran dari desa-desa di kawasan Teluk Pakedai antara lain dipasarkan ke Pasar Flamboyan Pontianak. Sementara itu, komoditas jambu dari Desa Arus Deras dipasarkan kepada sejumlah pedagang di Pontianak dan Kubu Raya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa produk desa telah memiliki akses pasar dan dimanfaatkan oleh masyarakat di luar wilayah desa. Kondisi ini menjadi peluang untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Berbagai hasil pemetaan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui program pendampingan Tim Ekspedisi Patriot UI 2026. Salah satu kegiatan awal yang dilaksanakan adalah Pelatihan Pelayanan Prima dan Digitalisasi untuk Promosi Potensi Desa pada 24 September 2026.
Pelatihan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang teridentifikasi di lapangan, terutama dalam peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung komunikasi dan promosi potensi desa.
Bagi pemerintah desa yang telah dikunjungi, pendampingan ini diharapkan tidak berhenti pada pemetaan potensi. Sejumlah kepala desa berharap adanya perubahan nyata, terutama meningkatnya permintaan terhadap produk pertanian dan perkebunan dari desa agar dapat dipasarkan lebih luas di Kabupaten Kubu Raya maupun wilayah Kalimantan Barat.
Pemerintah desa juga berharap pengembangan potensi ekonomi lokal dapat mendorong bertambahnya pelaku UMKM dan membuat produk-produk yang dihasilkan masyarakat semakin dikenal di luar desa.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Siti Fatimah, Dosen Sekolah Vokasi Universitas Indonesia, menilai bahwa pemahaman terhadap kondisi riil setiap desa menjadi kunci sebelum program pendampingan dilaksanakan.
Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatan pendampingan tidak dapat disamaratakan.
“Tim ingin hadir dengan pemahaman yang utuh terhadap kondisi masyarakat, bukan sekadar menjalankan program yang dirancang dari atas meja. Dengan turun langsung ke desa dan mendengarkan berbagai aspirasi dari pemerintah desa serta masyarakat, kami berharap pendampingan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan setiap desa,” ujar Siti Fatimah.
Lebih dari sekadar menjalankan program, Siti Fatimah juga mendorong anggota Tim Ekspedisi Patriot UI untuk menjadikan proses pendampingan sebagai ruang pembelajaran bersama masyarakat. Menurutnya, pengalaman turun langsung ke desa memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat, mengenali persoalan yang dihadapi, serta belajar dari pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang terbentuk dari keseharian mereka.
“Saya selalu berpesan kepada anggota tim untuk belajar dari masyarakat. Kita datang bukan hanya untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Di saat yang sama, kita harus mampu memberikan kontribusi nyata sesuai dengan kapasitas kita. Kehadiran kita harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Siti Fatimah.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Ekspedisi Patriot UI. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak ditempatkan semata-mata sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai pembelajar yang perlu membuka diri terhadap pengalaman, pengetahuan lokal, dan aspirasi masyarakat. Dengan demikian, proses pendampingan diharapkan berlangsung secara dialogis, dengan masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dalam merumuskan langkah yang sesuai dengan kebutuhan desa.
Ia berharap sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat yang telah terbangun sejak proses audiensi dapat terus berlanjut. Dengan kolaborasi tersebut, potensi yang dimiliki enam desa di Kawasan Transmigrasi Teluk Pakedai diharapkan tidak berhenti pada tahap pemetaan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program pendampingan dan dikelola secara berkelanjutan.


