Perkuat Administrasi dan Keuangan Desa, Tim Ekspedisi Patriot UI Gelar Pelatihan Tahap II di Rasau Jaya: Ikhtiar Bersama Membangun Bangsa dari Desa
Rasau Jaya, Wartapembaruan.co.id — Membangun Indonesia tidak hanya dilakukan dari pusat pemerintahan, tetapi juga dari desa melalui penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan di tingkat lokal. Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) dalam melaksanakan Pelatihan Tahap II di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Pelatihan yang berfokus pada penguatan tata kelola administrasi dan pelaporan tersebut diikuti oleh aparatur kecamatan, perangkat desa, serta pengurus berbagai kelembagaan ekonomi masyarakat, di antaranya BUMDes, Gapoktan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku UMKM.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pendampingan TEP UI di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya. Sebelumnya, tim telah melaksanakan pelatihan pelayanan prima serta digitalisasi dan promosi potensi desa. Pemanfaatan teknologi digital juga mulai diperkenalkan melalui praktik penggunaan Google Form untuk mendukung pendataan masyarakat, pemetaan potensi desa, penyampaian aspirasi, hingga promosi dan pemasaran produk lokal.
Pada pelatihan tahap kedua, peserta diajak memperkuat fondasi tata kelola administrasi dan pelaporan agar kegiatan pemerintahan maupun kelembagaan ekonomi dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan mudah dipertanggungjawabkan.
Materi tidak hanya disampaikan melalui teori. Peserta langsung mempraktikkan cara menata dokumen administrasi digital, mulai dari surat undangan, daftar hadir, dokumentasi kegiatan, nota dan kuitansi, hingga laporan kegiatan dan keuangan. Peserta juga diperkenalkan pada sistem penyimpanan dokumen yang lebih rapi, baik secara fisik maupun digital, sehingga dokumen dapat ditemukan kembali dengan mudah ketika dibutuhkan.
Dalam pengelolaan keuangan, peserta diajak memahami pentingnya memisahkan uang pribadi dan uang organisasi, memberikan nomor pada setiap nota atau kuitansi, serta mencatat setiap transaksi penerimaan dan pengeluaran secara tertib. Peserta kemudian mempraktikkan pengisian buku kas, menghitung saldo berjalan, dan memeriksa kelengkapan dokumen administrasi di lembaga masing-masing.
Pendekatan praktik tersebut diharapkan membantu peserta memahami bahwa administrasi dan pelaporan bukan sekadar kewajiban pencatatan, tetapi menjadi bagian penting dari tata kelola organisasi yang tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Desa Rasau Jaya Dua, Budiono, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan dan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan secara langsung.
“Terima kasih atas pelatihan hari ini karena saya merasa senang sekali dengan ilmu dan sharing yang didapatkan karena begitu penting. Semoga pelatihan ini terus berkelanjutan agar kita dapat lebih baik dan maju desanya. Setelah ini mohon dibantu untuk pendampingannya,” ujar Budiono.
Setelah pelatihan, TEP UI akan melanjutkan pendampingan ke kantor desa dan sekretariat kelembagaan ekonomi masyarakat. Pendampingan diarahkan pada penataan pembukuan kas harian, pengelolaan arsip digital, serta penyusunan laporan kegiatan dan keuangan. Pendampingan tersebut juga menjadi kelanjutan dari proses digitalisasi yang telah mulai dilakukan sejak Agustus 2026.
Bagi Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Siti Fatimah, M.Pd., CertDA., kehadiran TEP UI di Rasau Jaya bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung bersama masyarakat dan memberikan kontribusi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Iftitah Sulaiman kepada Tim Ekspedisi Patriot.
“Kalau adik-adik tidak hadir di setiap sudut Indonesia, orang lain yang akan hadir. Bila kita mampu mengelola talenta bangsa dengan baik, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju yang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri,” pesan Menteri Iftitah.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi Tim Ekspedisi Patriot untuk hadir secara langsung di tengah masyarakat, memahami persoalan, sekaligus melihat potensi yang dimiliki setiap wilayah.
“Sejalan dengan pesan Bapak Menteri, kami Tim Ekspedisi Patriot berterima kasih karena diberi kesempatan oleh negara kita tercinta untuk melihat langsung kondisi di lapangan, belajar bersama masyarakat, dan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi secara langsung di tengah masyarakat,” ujar Siti Fatimah.
Ia menambahkan bahwa proses pendampingan TEP UI dibangun berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat. Pemetaan potensi dan permasalahan menjadi langkah awal sebelum dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan yang lebih spesifik.
“Kami ingin hadir dengan pemahaman yang utuh terhadap kondisi masyarakat, bukan sekadar menjalankan program. Bagi kami, membangun bangsa adalah sebuah ikhtiar bersama yang dimulai dari tempat kita berada, termasuk dari desa. Karena itu, kami memulai dari pemetaan masalah dan potensi, kemudian dilanjutkan dengan penguatan pelayanan prima, digitalisasi dan promosi potensi desa, serta tata kelola administrasi dan pelaporan,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan merupakan bagian penting dalam membangun kemandirian masyarakat. Administrasi yang tertib, pelaporan yang transparan, pelayanan yang baik, serta pemanfaatan teknologi secara tepat diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan potensi ekonomi desa yang lebih profesional dan berkelanjutan.
“Harapannya, apa yang kami lakukan bersama masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi proses belajar bersama yang memberikan manfaat nyata dan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat setelah Tim Ekspedisi Patriot selesai melaksanakan tugasnya,” tambah Siti.
Ke depan, TEP UI akan terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelembagaan ekonomi masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Pendampingan akan diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendorong agar potensi ekonomi lokal di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya dapat dikelola secara mandiri, profesional, dan berkelanjutan.
Pelatihan Tahap II ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun Indonesia dari desa melalui penguatan sumber daya manusia, kelembagaan, tata kelola, dan potensi lokal.
Di penghujung kegiatan, Siti Fatimah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada anggota tim yang selama empat bulan menjalankan tugas secara penuh waktu di lokasi penugasan.
Siti secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Ranum Wanudya Yunas, Bani Mukti, Sela Viviyani, Sri Indriani, dan Adia Reza Khaleda sebagai anggota TEP UI, serta Fahmi, anggota TEP UI tahun 2025 yang pada tahun ini turut membantu sebagai petugas lapangan sehingga memperkuat pelaksanaan tugas tim di Rasau Jaya.
Menurutnya, keberadaan anggota tim yang setiap hari berada di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari keseluruhan proses Ekspedisi Patriot. Mereka tidak hanya menjalankan pemetaan dan pendampingan, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat serta menghadapi langsung berbagai dinamika dan tantangan di lapangan, termasuk kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah sekitar.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada enam anggota tim yang selama empat bulan ini berada di lokus, turun langsung dan berinteraksi dengan masyarakat. Mereka adalah Ranum, Bani, Sela, Sri, Adia, serta Fahmi yang merupakan anggota TEP tahun 2025 dan tahun ini ikut membantu sebagai petugas lapangan sehingga semakin memperkuat tim kami,” ujar Siti Fatimah.
Ia menjelaskan bahwa sebagai dosen sekaligus ketua tim, dirinya melakukan kunjungan ke lokus secara berkala, sementara anggota tim berada di lapangan secara penuh selama masa penugasan.
“Saya sebagai dosen dan ketua tim melakukan kunjungan ke lokus secara berkala, sekitar satu kali dalam sebulan dan biasanya selama satu minggu. Sementara teman-teman anggota tim hadir di sini selama empat bulan. Mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat, mendengar persoalan, melihat potensi, sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang ada di lapangan,” jelasnya.
Siti juga mengajak seluruh pemangku kepentingan di Kecamatan Rasau Jaya untuk terus memberikan dukungan kepada anggota tim selama proses pendampingan masih berlangsung.
“Saya mohon Bapak dan Ibu sekalian dapat membantu dan mendukung teman-teman kami selama berada di sini. Terima kasih atas kerja sama, bantuan, dan penerimaan yang sudah diberikan selama ini. Kita masih akan bersama-sama menjalankan proses pendampingan untuk kurang lebih dua bulan ke depan,” ungkapnya.
Bagi Siti Fatimah, apresiasi tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan kepada anggota tim, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap proses pembangunan membutuhkan kerja bersama, kehadiran, dan komitmen dari banyak pihak. Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar TEP UI untuk terus hadir, belajar bersama masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata dari desa untuk Indonesia.


