Tim Ekspedisi Patriot UI Hadirkan “Patriot Muda”, Perkuat Karakter Cinta Tanah Air Siswa SMPN 1 Sungai Kakap
Sungai Kakap, Wartapembaruan.co.id — Membangun Indonesia tidak hanya dilakukan melalui penguatan ekonomi, kelembagaan, dan potensi masyarakat, tetapi juga melalui penyiapan generasi muda yang memiliki karakter, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap bangsa. Semangat tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) “Patriot Muda: Penguatan Empat Konsensus Dasar Bangsa dalam Menumbuhkan Karakter Cinta Tanah Air” yang dilaksanakan di SMPN 1 Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Senin (28/9/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari semangat Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Indonesia (UI) dalam mendorong pembangunan kawasan yang tidak hanya bertumpu pada potensi ekonomi dan penguatan kelembagaan masyarakat, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Dalam kegiatan tersebut, materi “Patriot Muda” disampaikan oleh Siti Fatimah, M.Pd., dosen Program Studi Administrasi Perkantoran, Sekolah Vokasi Universitas Indonesia, bersama TEP UI 2026, yaitu Sri Indriani, Ranum Wanudya Yunas, Sela Viviyani, Adia Reza Khaleda, Bani Mukti, dan Fahmi. Kehadiran tim menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan sejak usia sekolah.
Di hadapan para siswa kelas VII, materi diawali dengan pemahaman sederhana mengenai makna patriot. Siswa diajak melihat bahwa menjadi patriot tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menjadi patriot dapat dimulai dari diri sendiri, dari sekolah, dan dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam materi Patriot Muda. Siswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa patriot adalah orang yang mencintai bangsa dan negaranya serta menunjukkan kecintaan tersebut melalui tindakan nyata. Karena itu, belajar dengan sungguh-sungguh, menghargai teman, menjaga lingkungan, menaati aturan, dan bangga menjadi anak Indonesia merupakan bagian dari praktik cinta tanah air.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui empat kata kunci, yaitu bangga, peduli, menjaga, dan berkarya. Bangga diwujudkan dengan menghargai bahasa, budaya, dan tradisi Indonesia; peduli ditunjukkan dengan membantu teman dan memperhatikan lingkungan; menjaga berarti merawat fasilitas, menaati aturan, dan mempertahankan persatuan; sedangkan berkarya diwujudkan melalui kegiatan belajar dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dengan pendekatan tersebut, patriotisme tidak ditempatkan sebagai konsep yang jauh dari kehidupan siswa. Nilai cinta tanah air justru dihubungkan dengan tindakan yang mereka lakukan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, lingkungan masyarakat, maupun di ruang digital.
Empat Konsensus Dasar Bangsa Dihadirkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagian utama kegiatan kemudian diarahkan pada pengenalan Empat Konsensus Dasar Bangsa, yaitu Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan siswa menghafalkan empat konsensus tersebut. Setiap nilai dikaitkan dengan situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Dalam pembahasan Pancasila, misalnya, siswa diajak melihat bagaimana setiap sila dapat diterapkan melalui tindakan sederhana. Menghormati teman yang sedang beribadah menjadi contoh penerapan sila pertama. Tidak melakukan bullying dan membantu teman dikaitkan dengan sila kedua. Bekerja sama membersihkan kelas menjadi contoh sila ketiga. Menyelesaikan persoalan melalui musyawarah mencerminkan sila keempat, sedangkan membagi tugas kelompok secara adil menjadi contoh penerapan sila kelima.
Sementara itu, UUD NRI Tahun 1945 diperkenalkan melalui pemahaman mengenai hak dan kewajiban. Siswa diajak memahami bahwa memperoleh pendidikan, mendapatkan perlakuan yang adil, memperoleh rasa aman, serta menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab merupakan bagian dari hak. Di sisi lain, mereka juga memiliki kewajiban untuk belajar, menaati tata tertib, menghormati guru, menghargai teman, dan menjaga lingkungan.
Pemahaman mengenai NKRI kemudian diperluas hingga kehidupan di ruang digital. Siswa diajak memahami bahwa kecintaan terhadap Indonesia juga tercermin dari cara menggunakan media sosial. Tidak menyebarkan hoaks, menghindari cyberbullying, tidak menghina suku atau agama tertentu, serta membuat konten positif mengenai budaya dan produk lokal menjadi bagian dari perilaku cinta tanah air di era digital.
Sementara itu, Bhinneka Tunggal Ika diperkenalkan melalui realitas keberagaman yang dekat dengan siswa. Perbedaan suku, agama, daerah asal, hobi, kemampuan, maupun karakter bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan bersama yang perlu disikapi dengan saling menghargai.
Belajar Patriotisme melalui Situasi Sehari-hari
Suasana kegiatan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Siswa juga diajak berinteraksi melalui permainan dan berbagai situasi sederhana untuk menentukan apakah suatu tindakan mencerminkan perilaku “Patriot Muda” atau bukan.
Salah satu situasi yang diberikan adalah ketika seorang siswa melihat sampah di bawah meja kemudian mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Tindakan tersebut dipahami sebagai bentuk patriotisme karena menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan bersama. Sebaliknya, menyebarkan video teman yang sedang dipermalukan ke grup kelas dinilai bukan perilaku patriot muda karena dapat merugikan orang lain.
Siswa juga diajak memahami berbagai situasi lain, seperti menghormati teman yang berbeda agama, tidak membeda-bedakan teman berdasarkan suku, menyampaikan pendapat dengan sopan ketika terjadi perbedaan pandangan, serta membantu teman yang mengalami kesulitan. Melalui aktivitas tersebut, siswa didorong untuk memahami bahwa nilai kebangsaan bukan sekadar materi yang harus dihafalkan, tetapi dapat diwujudkan melalui pilihan dan tindakan sehari-hari.
Selain permainan situasi, siswa juga diajak mengidentifikasi penerapan masing-masing sila melalui contoh yang sederhana. Menghormati teman yang sedang beribadah, tidak melakukan bullying, bekerja sama membersihkan kelas, bermusyawarah ketika menghadapi persoalan, dan membagi tugas secara adil menjadi contoh yang digunakan untuk membantu siswa menghubungkan nilai Pancasila dengan kehidupan mereka.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan, yakni agar siswa tidak hanya mampu menyebutkan empat konsensus dasar bangsa, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari serta menemukan bentuk nyata cinta tanah air di sekolah, rumah, dan masyarakat.
Membangun Kawasan, Menyiapkan Generasi
Kehadiran Patriot Muda memperluas makna pengabdian dalam rangkaian semangat Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan Universitas Indonesia. Pembangunan kawasan pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai potensi wilayah, kelembagaan ekonomi, maupun penguatan kapasitas masyarakat saat ini, tetapi juga tentang generasi yang akan meneruskan proses pembangunan tersebut di masa depan.
Anak-anak dan remaja menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan tersebut. Mereka bukan hanya penerima manfaat pembangunan hari ini, tetapi juga generasi yang kelak akan berperan dalam menjaga potensi wilayah, kehidupan sosial, lingkungan, serta nilai-nilai kebangsaan di masyarakat.
Karena itu, pengabdian kepada masyarakat dalam semangat Ekspedisi Patriot tidak berhenti pada pemetaan potensi, pendampingan, maupun penguatan kelembagaan masyarakat. Ruang pembelajaran bagi generasi muda juga menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran bahwa kemajuan suatu wilayah membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.
Melalui Patriot Muda, para siswa diajak memahami bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: rajin belajar, menghormati guru, menghargai teman, menjaga lingkungan, menjaga persatuan, dan bijak menggunakan media sosial. Lima hal tersebut secara khusus diperkenalkan sebagai cara sederhana menjadi Patriot Muda di sekolah.
Dari Janji Menjadi Tindakan
Menjelang akhir kegiatan, para siswa diajak mengucapkan Janji Patriot Muda. Mereka menyatakan komitmen untuk bangga menjadi anak Indonesia, menghargai perbedaan, menghormati guru dan teman, tidak melakukan bullying, menjaga lingkungan, menggunakan media sosial dengan bijak, belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persatuan, dan menjadi generasi Indonesia yang berkarakter serta bermanfaat. Kegiatan Patriot Muda tidak ditutup hanya dengan pemahaman mengenai empat konsensus dasar bangsa, tetapi dengan ajakan untuk mengubah pengetahuan menjadi Tindakan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi benang merah kegiatan Patriot Muda dan semangat Ekspedisi Patriot: membangun Indonesia membutuhkan kerja bersama. Pembangunan bukan hanya tentang ekonomi, infrastruktur, atau kelembagaan, tetapi juga tentang membangun manusia yang memiliki karakter, kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menjaga persatuan. Bagi para siswa, menjadi patriot tidak perlu menunggu dewasa. Tidak harus dimulai dengan tindakan besar. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekolah. Mulai hari ini.



