Tim Patriot UI Berkolaborasi Mewujudkan Pengembangan Ekowisata Mangrove Rempang
Batam, Wartapembaruan.co.id — Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) melakukan audiensi dengan Resor Taman Buru (TB) Pulau Rempang, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Kementerian Kehutanan, serta pihak PT Makmur Elok Graha (MEG) dan PT Mega Surya Artha Sentosa (MSAS) untuk membahas pengembangan ekowisata mangrove di kawasan Rempang Eco City.
Pertemuan yang berlangsung pada Jumat (18/9) tersebut menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi pemanfaatan potensi mangrove Sembulang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism). Tim Ekspedisi Patriot melakukan audiensi dengan Resor Taman Buru Pulau Rempang dilanjutkan pertemuan dengan pihak swasta.
Audiensi dihadiri oleh Ariyanto, S.I.P.Kepala Resor Taman Buru Pulau Rempang BBKSDA Riau. Sementara dari pihak swasta hadir Januar Ari Setyomo, Asisten Manajer Community Development PT Makmur Elok Graha (MEG), serta Dhafin Maulidiyan, Direktur PT Mega Surya Artha Sentosa (MSAS).
Mangrove Sembulang Miliki Potensi Ekowisata
Dalam audiensi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot menyampaikan potensi kawasan mangrove Sembulang untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang mengintegrasikan aspek pariwisata, konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kawasan mangrove yang menjadi lokasi pembahasan dinilai memiliki kondisi yang masih terjaga dengan suasana yang tenang, asri, dan nyaman. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan wisata berbasis alam domestik dan internasional dengan tetap mempertahankan fungsi ekologis kawasan.
Terdapat dua alternatif akses menuju kawasan yang dapat dikembangkan. Jalur pertama melalui Pelabuhan KNMP Sembulang dengan jarak sekitar tiga kilometer, sementara jalur kedua merupakan akses darat dengan jarak sekitar 100 meter dari jalan utama Rempang Eco City.
Selain wisata alam, kawasan tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi mangrove, mengingat lokasinya yang relatif dekat dengan SD 06 Galang dan SMAN 30 Batam. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kegiatan pembelajaran lingkungan secara langsung, khususnya mengenai ekosistem mangrove dan pentingnya menjaga kawasan pesisir.
Dorong Efek Domino bagi Perekonomian Masyarakat
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI, Vishnu Juwono, menyampaikan bahwa pengembangan ekowisata mangrove di Sembulang dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya kolaborasi yang memberikan manfaat bagi berbagai pihak.
“Ini dapat menjadi awal kolaborasi yang baik dan menguntungkan setiap pihak serta meningkatkan perekonomian dari sektor pariwisata yang memiliki efek domino pada peningkatan perekonomian khususnya perikanan dan UMKM,” ujar Vishnu.
Menurutnya, pengembangan ekowisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui berbagai sektor yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata. Dengan demikian, keberadaan destinasi ekowisata diharapkan dapat menciptakan keterkaitan antara sektor pariwisata dengan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk perikanan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dukungan Kementerian Kehutanan dan Swasta
Pengembangan ekowisata mangrove tersebut mendapat dukungan dari pihak Resor Taman Buru Pulau Rempang. Ariyanto, S.I.P., Kepala Resort Pulau Rempang BBKSDA Riau, menyampaikan dukungannya terhadap rencana pengembangan tersebut, khususnya dalam pemanfaatan blok pemanfaatan hutan serta pelibatan masyarakat Rempang Eco City secara komprehensif.
“Kami sangat mendukung, terutama dalam memanfaatkan blok pemanfaatan hutan serta adanya pelibatan masyarakat REC yang komprehensif,” ujar Ariyanto.
Pelibatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pembahasan karena keberlanjutan ekowisata tidak hanya bergantung pada kondisi alam, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi wisata.
Dukungan juga disampaikan pihak swasta. Januar Ari Setyomo, Asisten Manajer Community Development PT MEG, dan Dhafin Maulidiyan, Direktur PT MSAS, menyatakan dukungan terhadap pengembangan ekowisata mangrove Sembulang, khususnya dalam kaitannya dengan penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan taraf hidup masyarakat.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari peluang kolaborasi antara sektor swasta dan masyarakat dalam mengembangkan aktivitas ekonomi yang berbasis pada potensi lokal. Pengembangan ekowisata diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam berbagai aktivitas, mulai dari pengelolaan destinasi, jasa wisata, kuliner, UMKM, hingga kegiatan pendukung lainnya.
Tiga Pihak, Satu Arah Pengembangan
Audiensi tersebut mempertemukan tiga unsur penting dalam pengembangan ekowisata mangrove Sembulang, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan memiliki peran dalam aspek pengelolaan kawasan dan konservasi. Pihak swasta dapat berkontribusi dalam mendukung pengembangan serta pemberdayaan masyarakat, sedangkan masyarakat melalui Pokdarwis Lemak Manis Rempang Eco City (REC) menjadi bagian penting dalam pengelolaan dan pengembangan aktivitas wisata di tingkat lokal.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, wisata mangrove berpotensi dikembangkan sebagai kawasan ekowisata yang tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga menjadi ruang edukasi lingkungan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal.
