News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Benny susetyo :  Pembatinan dan Pembumian Pancasila  Kunci Mewujudkan Ekosistem Keamanan Nasional Yang Tangguh

Benny susetyo :  Pembatinan dan Pembumian Pancasila  Kunci Mewujudkan Ekosistem Keamanan Nasional Yang Tangguh

Jakarta, Wartapembaruan.co.id -  Strategi Institute Menggelar acara Seri Diskusi Kebangsaan SI ke-I dengan tema “Pancasila dalam Tindakan: Membangun Ekosistem Keamanan Nasional Mewujudkan Indonesia Tangguh,” (30/06/2021).

Acara yang dilaksanakan di Cafe Papa Bro,  Kemang itu dihadiri oleh para Narasumber antara lain Komisaris Jenderal Purnawirawan  Dr. Nurfaizi Suwandi MM mantan Kapolda Metro Jaya dan Kabareskrim Mabes Polri yang saat ini menjabat sebagai Duta besar Republik Indonesia untuk Mesir, Profesor  Muradi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Antonius Benny Susetyo  Sekretaris Dewan Nasional Setara Institute dan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila  serta Pengamat Politik Bony Hargens dan Profesor Adji Samekto Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Prof Dr FX Adji Samekto M.Hum Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang hadir secara Daring.
Acara ini dibuka oleh  Direktur Strategi Institute Antonius Danar,S.E, M.Si. yang dalam sambutannya menyatakan bahwa "acara Diskusi ini dilakukan dalam rangka bulan Pancasila yang dilaksanakan sepanjang bulan Juni serta 1 juli yang merupakan hari Bayangkara, Karenanya Strategi Institute memandang perlu membuat acara Diskusi Ini Demi menemukan solusi dan menciptakan sistem keamanan yang tangguh di Indonesia yang di dasari oleh Pancasila "

Lebih lanjut Antonius Danar  juga menyatakan  bahwa dengan wilayah yang luas serta keberagaman yang multi dimensi , Indonesia merupakan Negara yang paling potensial sekaligus Paling rawan terkait masalah ancaman keamanan, ancaman Dominasi Negara asing dan Ideologi Trans Nasional yang pelan pelan menggerogoti dari dalam membutuhkan lawan yang Jelas dan seimbang , dan Pancasila merupakan jawabannya, Namun karena berbagai gempuran Hoaks dan berita bohong bernuansa SARA ,serta kekurang seriusan pemerintah dalam menghadapi bahaya ini , pelan pelan Pancasila terasa ditinggalkan oleh anak anak bangsa ini dan berganti dengan Ideologi dengan sentimen identitas yang kuat, yang tak sadar mengantar Indonesia kepada Perpecahan. 

Karena kenyataan inilah diskusi ini diselenggarakan demi menemukan bagaimana cara jitu dalam menghadapi ancaman terhadap Bangsa dan Negaraini yang terasa Semakin nyata.

Duta besar Republik Indonesia untuk Mesir, Komisaris Jenderal Purnawirawan  Dr. Nurfaizi Suwandi MM sebagai Narasumber pada kesempatan ini menyatakan bahwa   Pancasila merupakan jawaban ,asset terbaik serta kebanggaan bangsa Indonesia , hal ini terbukti dengan pernyataan dari beberapa Pemimpin Negara Negara Arab yang menyatakan bahwa Konsep Pancasila sebagai Peredam gesekan  Karena Perbedaan Multi dimensi di Indonesia dianggap Efektif , Hal ini berbeda dengan keadaan di Negara Negara Arab yang terhitung perbedaan yang dihadapi hanya sedikit ,tapi gagal meredam Konflik dengan damai.

Namun kehebatan konsep Ideologi Indonesia tersebut belum diikuti Indonesia dengan  sistem informasi yang mumpuni dan terintegrasi , karenanya Pihak Pihak yang berkepentingan seperti Sektor Pemerintah, sektor Swasta, Sektor Telekomunikasi serta Sektor Pemakai Akhir harus dapat bersinergi dan bergerak bersama untuk mewujudkan sebuah  GREAT WALL OF INFORMATION TECHNOLOGY yang diharapkan dapat menjaga Indonesia serta membendung serangan serangan yang bersifat Tehnologi informasi seperti Pencurian Data rahasia baik milik Negara maupun milik masyarakat secara Individu. Kesinergian Tehnologi Informasi yang dijiwai oleh semangat gotong royong Pancasila ini diharapkan dapat menjaga Indonesia dari gangguan baik dalam maupun luar  Negeri , Karena Itu usaha pensinergian sekaligus Sosialisasi Pancasila Ini  Harus selalu dilakukan walaupun dalam keadaan pandemi. “hal ini dilakukan karena Pancasila merupakan Jati diri Bangsa dan satu satunya yang dapat menyatukan Bangsa Indonesia adalah Pancasila” ujar Nurfaizi menutup paparannya

Profesor  Muradi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran  dalam paparannya mengatakan bahwa " sistem integritas keamanan nasional yang Indonesia miliki belum sempurna, ada hal yang perlu diperjelas dan dipertegas mekanismenya seperti seperti perlindungan terhadap  Data Base kependudukan Warga Negara Indonesia, serta sanksi terhadap pelaku serta mereka yang memperjual belikan data tersebut , Masalah ini dan maslah krusial lain seperti Pencurian Rahasia Negara Perlu dilindungi dalam satu  payung besar Undang Undang Keamanan Nasional .

Para  aktor  Penjaga keamanan, harus senantiasa aktif  dalam usaha membuat ekosistem yang terintegrasi baik  demi menjaga keamanan nasional. 3 Pihak dan Aktor tersebut yaitu Intelejen, Polisi dan Militer harus dapat memperjelas sinergi dan tata kelola serta menjaga  sarana dan prasarana. Jika ketiga komponen keamanan  tersebut sudah bersinergi baik niscaya kita hanya tinggal merasakan manfaat dari Ekosistem tersebut.

Pengamat Politik Bony Hargens dalam Paparannya menyatakan bahwa kepentingan politik yang beragam di Indonesia memunculkan narasi beragam dalam menyikapi suatu fenomena atau keadaan,  hal ini muncul karena  ketidakadilan struktural yang lama terpelihara di negeri ini. Untuk memperkuat sistem keamanan  perlu ada  rekonsiliasi dan penghentian ketidakadilan sehingga penguatan dan konsolidasi di dalam Negara Indonesia dapat berujung pada penguatan menghadapi tantangan dari luar.

Solusi selanjutnya adalah  mari bahu membahu memperkuat ekonomi dengan  kegotong royongan berdasarkan Pancasila , diharapkan ekstrimitas dan radikalisme yang berujung perpecahan dapat dikikis dan dihilangkan

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Antonius Benny Susetyo memulai paparan dengan keprihatinan bahwa di era digitalisasi dimana Negara dan bangsa Lain bergerak Maju, Indonesia  masih saja mempermasalahkan ideologi, karenanya kita harus membangun budaya kuat untuk menghadapi tantangan terkait  tehnologi informasi, hingga , energi  yang dimiliki tidak habis untuk merespons isu dan kita dapat bergerak maju dan meninggalkan konflik.
jika kita sepakat bahwa Pancasila adalah kesepakatan dan konsensus final milik bangsa Indonesia maka sudah waktunya  Ideologi milik kita ini diaktualisasikan  dalam tindakan sebagai warga bangsa dan di ampilkan dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh Negara , sudah saatnya Negara ini membuktikan bahwa Pancasila bukan sekedar  lips service dan verbatim yang berhenti dalam jargon tanpa pembatinan dan pembumian lebih lanjut.

Sudah waktunya dengan spirit kegotong royongan dalam  Pancasila kita membangun tata kehidupan baru berdasarkan tenggang rasa dan saling bantu. Sistem ekonomi pancasila dan ketahanan pancasila  adalah yang paling efektif untuk menjaga keamanan Indonesia karena dengan bahu membahu, gotong royong dan sinergitas dari semua kelompok masyarakat diharapkan stabilitas dan keamanan negara ini dapat terjaga.
selain saling menjaga keutuhan kita juga harus senantiasa memiliki  literasi tinggi dan nalar kritis agar bisa menyaring berita berita yang bernuansa kebencian. sudah waktunya kita berinvestasi pada sistem pendidikan, karakter dan nilai karena tantangan kedepan Indonesia adalah kita harus membangun konsolidasi demokrasi dalam menghadapi covid tanpa melihat kepentingan sampingan sehingga tidak ada energi negatif yang menghabiskan stamina.

Lebih lanjut Benny menyatakan bahwa selama mentalitas pemimpin adalah mentalitas ndoro, kesinergitasan bangsa Indonesia tidak akan terwujud, kita harus bisa saling bantu dengan didorong oleh regulasi untuk sama sama menjaga keamanan dan stabilitas bangsa.

“Pada Akhirnya kita masing masing harus mampu dan mau menjadi negarawan yang tulus dan jujur menjaga bangsa tanpa pretensi hingga kita bisa fokus menyelesaikan tantangan dan bisa membangun peradaban yang terus berkembang menuju arah yang lebih baik “ ujar Benny menutup penjelasannya.

Tags

Newsletter Signup

Silahkan isi Email anda disini untuk mengikuti berita terbaru dari Warta Pembaruan.

Posting Komentar