BREAKING NEWS
 

Ainal Mardhiah, Dari Penjaga Perpustakaan ke Kursi Hakim Agung


Jakarta, Wartapembaruan.co.id
- Perjalanan Ainal Mardhiah menuju kursi Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung bukanlah kisah karier yang dibangun lewat jejaring elite atau privilese sosial. Ia lahir di Takengon, Aceh, 4 Mei 1966, sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara dalam keluarga sederhana.

Ayahnya seorang guru, dan dari sanalah ia mewarisi keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan mengubah nasib,(Senin, 12 Januari 2026).

Sejak kecil Ainal bercita-cita menjadi dosen. Namun realitas sosial dan bias gender pada masanya menutup pintu itu. Ia pernah ditolak meski berprestasi, hanya karena ia perempuan. “Katanya, kamu nanti menikah,” tutur Ainal, mengenang jawaban yang diterimanya.

Tak menyerah, ia mencari jalan lain. Ia sempat bekerja sebagai penjaga perpustakaan di sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi di Banda Aceh. Di ruang sunyi penuh buku itu, Ainal tidak hanya menata koleksi dan mengurus peminjaman, tetapi juga belajar membuat keputusan kecil yang menyentuh keadilan sosial.

Salah satu pengalaman yang ia kenang adalah ketika seorang mahasiswa dikenai denda Rp30 ribu karena terlambat mengembalikan buku. “Saya pikir itu besar sekali bagi mahasiswa. Saya bilang, bayar Rp5 ribu saja,” ujarnya. Keputusan itu bukan pelanggaran aturan, melainkan bentuk diskresi berbasis nurani, dicatat resmi dalam register.

Di luar pekerjaan, Ainal telah terbiasa memikul tanggung jawab sejak remaja. Tanpa asisten rumah tangga, ia mengurus rumah dan adik-adiknya, sambil mengajar kursus Bahasa Inggris sejak SMA. Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, ia juga mengajar mata pelajaran hukum dan ekonomi.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Sidang

Ainal lulus pada 1989 sebagai mahasiswa teladan. Ia sempat menjadi dosen di STIEI Banda Aceh (1989–1992). Namun hidupnya berbelok ketika ia, atas dorongan ibunya, mendaftar sebagai calon hakim—bersamaan dengan pendaftaran di Kementerian Luar Negeri dan sebagai panitera. Yang lebih dulu diterima adalah calon hakim.

Sejak itu, Ainal memasuki dunia peradilan dengan satu prinsip: menjaga jarak sosial demi menjaga independensi. Ia membatasi pertemanan, menolak undangan reuni, dan siap dicap “sombong”. “Hakim harus membatasi hubungan agar tidak ada intervensi,” ujarnya.

Kariernya ditempa dari bawah: PN Meulaboh, Pariaman, Bukittinggi, Banda Aceh, Jantho, hingga Lhokseumawe, dari hakim anggota hingga ketua pengadilan. Pada 2 Februari 2022, ia diangkat sebagai Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

Ia pernah mengadili perkara yang melibatkan orang yang dikenalnya sendiri. Tekanan dan bujukan datang, tetapi ia menolak. “Bagi saya semua sama. Kompasnya fakta dan hukum,” katanya.

Ainal juga menjalani masa tugas di Aceh saat konflik bersenjata, di tengah ketakutan dan keterbatasan, sambil tetap menjalankan peran sebagai hakim, istri, dan ibu.

Mengawal Keadilan Anak

Tahun 2012, perannya meluas ke tingkat nasional ketika ia tergabung dalam Restorative Justice Working Group Sistem Peradilan Pidana Anak dan dilibatkan dalam pembahasan UU No. 11 Tahun 2012 tentang SPPA di DPR. Ia membawa suara praktik lapangan agar hukum tidak sekadar menghukum, tetapi memulihkan masa depan anak.

Pendekatan Ainal dalam memimpin dikenal sebagai “manajemen keibuan”—mengenal staf secara personal tanpa kehilangan ketegasan. Ia jarang berdiam di ruang ketua, lebih memilih hadir di berbagai ruangan, menyapa, mengamati, dan membina. “Perhatian tidak mengurangi wibawa,” katanya.

Dari Doa Bercanda ke Takdir

Saat Pengadilan Negeri Banda Aceh mendapat penghargaan di masa pandemi, Ainal memilih tidak datang ke Jakarta. Rekannya menyayangkan keputusan itu. Ia menjawab ringan, “Nanti juga tiap hari ketemu Ketua MA.”

Ucapan itu menjadi nyata. Sejak 5 Januari 2024, Ainal resmi dilantik sebagai Hakim Agung, dan berkantor di tempat yang sama dengan pimpinan Mahkamah Agung.

Proses seleksinya pun tidak lepas dari cibiran. Ia dianggap “bukan siapa-siapa”. Namun pada pendaftaran pertamanya, ia lulus.

Kini, meski berada di puncak karier yudisial, Ainal tidak meninggalkan dunia pendidikan. Ia tetap aktif mengajar di berbagai diklat calon hakim dan forum akademik, meneruskan mimpi masa kecilnya—mengajar—dalam skala yang lebih luas.

Dari perpustakaan kecil di Banda Aceh hingga Mahkamah Agung, Ainal Mardhiah membawa satu benang merah: keadilan yang berakar pada empati, disiplin, dan keberanian menjaga independensi.


(Alred)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image