BREAKING NEWS
 

Rakyat Lagi Berduka, Bupati Tapteng Rayakan Malam Tahun Baru 2026 Mengabaikan Imbauan Presiden RI


Tapanuli Tengah, wartapembaruan.co.id
– Di saat bangsa ini diajak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menundukkan kepala, menahan euforia, dan menunjukkan empati kepada korban bencana, sebuah peristiwa yang mencederai nurani publik justru terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah."Jumat,(2/1/2026). 

Bupati Tapanuli Tengah diduga terang-terangan mengabaikan imbauan Presiden dan Kapolri, dengan tetap menggelar perayaan malam Tahun Baru 2026 menggunakan kembang api dan mercon di tengah masyarakat korban bencana yang masih bertahan di lokasi pengungsian, tepatnya di Hutanabolon, Kecamatan Tukka.

Lebih menyakitkan lagi, video perayaan tersebut kini beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, tampak suasana penuh euforia: tawa lepas, sorak sorai, hingga aksi berjoget-joget di tengah kerumunan massa, dengan latar suara musik, petasan, dan kembang api—sebuah kontras yang brutal dengan kenyataan pahit para pengungsi yang masih hidup dalam ketidakpastian.

Peristiwa ini sontak memantik kemarahan publik. Pasalnya, hingga kini masih banyak warga Tapanuli Tengah yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman akibat bencana alam. Alih-alih menghadirkan kehadiran negara yang menenangkan, yang tersaji justru pesta kekuasaan di atas penderitaan rakyat.

Imbauan Presiden Prabowo Subianto agar pejabat negara menghormati rasa duka korban bencana seolah tak memiliki makna di Tapanuli Tengah. Begitu pula arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang meminta kepala daerah menghindari perayaan dan penggunaan petasan demi menjaga empati dan ketertiban, diduga diabaikan tanpa rasa bersalah.

“Ini bukan sekadar pesta kembang api, ini penghinaan terhadap penderitaan kami,” ujar seorang warga pengungsi di Hutanabolon dengan nada getir. Ia mengaku suara petasan dan teriakan kegembiraan di malam tahun baru menjadi trauma baru bagi keluarganya yang masih tidur di tenda pengungsian.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai peristiwa ini sebagai krisis empati kepemimpinan yang akut, sekaligus bukti kegagalan moral seorang kepala daerah dalam membaca situasi darurat kemanusiaan. Tindakan tersebut dinilai tidak hanya melanggar etika kepatutan pejabat publik, tetapi juga mencederai rasa keadilan sosial di tengah situasi bencana.

Publik kini mendesak pemerintah pusat, aparat penegak hukum, serta lembaga pengawas pemerintahan untuk turun tangan melakukan evaluasi serius. Pasalnya, jika sikap semacam ini dibiarkan, maka pesan yang sampai ke masyarakat adalah: penderitaan rakyat bisa dikalahkan oleh euforia kekuasaan.

Hingga berita ini diterbitkan, Bupati Tapanuli Tengah belum memberikan klarifikasi resmi, meski video kegembiraan, joget-joget, dan pesta kembang api di sekitar lokasi pengungsian Hutanabolon, Kecamatan Tukka, telah beredar luas dan menjadi konsumsi publik nasional.(M.T)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image