Ruang Hidup Terjepit, Orang Rimba Rentan Konflik
Jambi, Wartapembaruan.co.id – Perkumpulan Hijau Jambi menyatakan keprihatinan atas semakin sempitnya ruang hidup Orang Rimba yang berdampak pada konflik sosial dan persoalan hukum. Hal ini mencuat setelah dugaan kasus penculikan di Simpang Mentawak, Kabupaten Merangin.
Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, Feri Irawan, menegaskan bahwa kasus tersebut tidak bisa dilihat secara sederhana dengan menyalahkan Orang Rimba. Ia menduga ada keterlibatan pihak luar yang memanfaatkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat adat tersebut.
“Kami mendorong aparat mengusut tuntas, bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga pihak luar yang diduga menjadi aktor di balik peristiwa ini,” ujar Feri.
Perkumpulan Hijau Jambi juga menyoroti adanya ancaman terhadap Mijak Tampung, pengacara masyarakat adat Orang Rimba, dan meminta Polda Jambi memberikan perlindungan hukum.
Menurut mereka, konflik yang terjadi berakar dari hilangnya wilayah adat akibat alih fungsi hutan dan kebijakan negara yang mempersempit ruang hidup Orang Rimba. Hal ini membuat mereka semakin rentan dan mudah dikriminalisasi.
Perkumpulan Hijau Jambi mendesak pemerintah untuk:
- Mengusut kasus secara transparan dan adil
- Melindungi Orang Rimba dan pembela masyarakat adat
- Mengakui wilayah adat secara hukum
- Mendorong pembentukan kampung adat
- Menjamin akses pendidikan dan kesehatan
“Penyelesaian konflik tidak cukup dengan pendekatan pidana, negara harus mengakui sejarah dan hukum adat Orang Rimba,” tutup Feri.

