Warga Pasar Terendam Barus Merasa Diabaikan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah
Barus, Tapanuli Tengah, wartapembaruan.co.id – Sudah 36 hari pascabencana banjir yang melanda pasar terendam, kecamatan barus, kabupaten tapanuli tengah, pada 25 November 2025, namun hingga kini pemerintah daerah dinilai absen dari penderitaan masyarakat.
Warga mengaku tidak pernah sekalipun menerima kunjungan langsung dari pemerintah kabupaten tapanuli tengah maupun camat setempat untuk melihat kondisi riil warga terdampak, ketidak kehadiran pemerintah ini memicu kekecewaan dan kemarahan masyarakat yang masih bergulat dengan dampak bencana." Rabu, (31/12/2025).
"Sudah 36 hari kami hidup dalam kondisi pascabencana, tetapi pemerintah kabupaten dan camat tidak pernah datang melihat langsung penderitaan masyarakat di sini,” kata Dahransah Tanjung, warga pasar terendam, kepada wartawan.
Menurut Dahransah, banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga merusak akses jalan utama, menghancurkan rumah-rumah warga, serta melumpuhkan roda perekonomian masyarakat kecil.
Hingga kini, tidak ada perbaikan berarti yang dilakukan pemerintah.
“Jalan rusak, rumah banyak yang tidak layak huni, usaha warga mati total. Tanpa bantuan pemerintah, kami seperti dibiarkan berjuang sendiri.” ujarnya.
Warga menilai lambannya respons pemerintah daerah menunjukkan lemahnya kepekaan terhadap penderitaan masyarakat.
Padahal, kehadiran pemerintah di lokasi bencana dinilai penting, tidak hanya untuk pendataan kerusakan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dan administratif terhadap warga terdampak.
Masyarakat pasar terendam mendesak pemerintah kabupaten tapanuli tengah agar segera turun langsung ke lapangan, melakukan pendataan kerusakan secara transparan, serta menyalurkan bantuan nyata berupa perbaikan infrastruktur dan pemulihan ekonomi masyarakat.
“Kami tidak meminta hal yang berlebihan. Kami hanya meminta pemerintah hadir, memperbaiki rumah dan jalan, serta membantu menghidupkan kembali perekonomian warga yang hancur akibat banjir." tegas Dahransah.
Warga menegaskan, pembiaran yang terus berlangsung hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat dan memperdalam ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah daerah, mereka berharap suara ini menjadi alarm keras agar pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi pasar terendam yang hingga kini masih terpuruk akibat bencana.(M.T)

