Ditjen Badilum Perkuat Mental dan Spiritualitas Pegawai Lewat Pengajian Awal Tahun 2026
Jakarta, Wartapembaruan.co.id - Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Ditjen Badilum) Mahkamah Agung RI mengawali tahun kerja 2026 dengan memperkuat fondasi mental dan spiritual aparatur melalui kegiatan pengajian. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun sumber daya manusia peradilan yang tidak hanya profesional, tetapi juga berintegritas dan berkarakter.
Pengajian yang digelar pada Kamis (15/1/2026) tersebut berlangsung di Command Center Ditjen Badilum, Jakarta, dan diikuti oleh para pejabat serta pegawai baik secara langsung maupun melalui sarana daring. Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Ditjen Badilum, Kurnia Arry Soelaksono, yang mengajak seluruh jajaran untuk menjadikan pengajian sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai moral dalam menjalankan tugas negara.
Dalam sambutannya, Kurnia Arry menegaskan bahwa penguatan spiritual merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan integritas aparatur peradilan. Menurutnya, kualitas pelayanan publik dan penegakan hukum sangat dipengaruhi oleh keteguhan moral dan kejujuran pribadi setiap pegawai.
“Siraman rohani hari ini disampaikan oleh Ustaz Jam’an Alwani dengan tema pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT, khususnya nikmat waktu yang sangat berharga dan tidak akan pernah kembali,” ujar Kurnia Arry.
Dalam ceramahnya, Ustaz Jam’an Alwani menekankan bahwa waktu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, terlebih bagi aparatur negara yang diberi mandat melayani masyarakat. Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan waktu kerja, kemalasan, maupun praktik korupsi dalam bentuk apa pun merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut.
“Korupsi tidak hanya soal uang, tetapi juga soal waktu dan tanggung jawab. Semua itu bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menghilangkan keberkahan rezeki,” tegasnya.
Selain ceramah utama, kegiatan pengajian juga diisi dengan sesi diskusi interaktif. Para pegawai memanfaatkan forum tersebut untuk mengajukan pertanyaan dan berdialog langsung dengan penceramah mengenai berbagai persoalan keagamaan yang berkaitan dengan etos kerja, keikhlasan, kesabaran, serta tantangan moral dalam menjalankan tugas di lingkungan peradilan.
Forum ini menjadi ruang terbuka yang mendorong kesadaran kolektif bahwa profesionalisme aparatur negara harus berjalan seiring dengan keteguhan nilai-nilai spiritual dan etika.
Kegiatan pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Jam’an Alwani. Doa tersebut dipanjatkan agar seluruh jajaran Ditjen Badilum diberikan kekuatan, keikhlasan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah sebagai pelayan keadilan.
Melalui kegiatan ini, Ditjen Badilum menegaskan komitmennya untuk terus membangun budaya kerja yang berlandaskan integritas, tanggung jawab, dan kesadaran moral, sebagai fondasi utama dalam mewujudkan peradilan yang bersih, profesional, dan dipercaya masyarakat.
(Alred)
