Pemkab Sarolangun Gagal Total, Rakyat Dipaksa Cari Makan di Lubang Maut
Sarolangun, Wartapembaruan.co.id – Tragedi tewasnya delapan penambang emas tanpa izin (PETI) di Desa Temenggung, Kecamatan Limun, menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sarolangun. Gerakan Mahasiswa Sarolangun (GEMSAR) menilai tragedi berdarah ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan bukti nyata kegagalan negara hadir untuk rakyatnya.
Ketua GEMSAR, Lahul Harisandi, dengan tegas menyebut Pemkab Sarolangun lalai dan abai terhadap nasib masyarakat kecil. Menurutnya, warga terpaksa mempertaruhkan nyawa di lubang tambang karena tidak memiliki pilihan hidup lain.
“Jangan berlindung di balik alasan cuaca atau kelalaian pekerja. Ini murni kegagalan pemerintah. Kalau ada lapangan kerja layak, siapa yang mau mati sia-sia di lubang tambang?” tegas Lahul.
Ia menuding Pemkab gagal total menciptakan sektor ekonomi alternatif yang aman dan berkelanjutan. Program pemberdayaan yang selama ini digembar-gemborkan dinilai hanya formalitas tanpa dampak nyata.
“Warga Dusun Mengkadai dan sekitarnya masuk PETI karena urusan perut. Mereka tahu risikonya mati, tapi kelaparan lebih menakutkan. Ini kemiskinan yang dipelihara sistem,” kecamnya.
Lahul juga mempertanyakan arah kebijakan anggaran daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat miskin.
“Anggaran besar tapi rakyat tetap miskin. Uangnya ke mana? Kenapa sektor pertanian, perkebunan, dan UMKM dibiarkan mati?” sindirnya.
Dalam pernyataan resminya, GEMSAR mendesak Bupati Sarolangun untuk:
- Melakukan evaluasi total seluruh program pemberdayaan ekonomi yang terbukti gagal.
- Menciptakan lapangan kerja nyata, khususnya di sektor pertanian, perkebunan, dan ekonomi kreatif.
- Bertanggung jawab secara moral dan politik atas kemiskinan struktural yang memaksa rakyat masuk aktivitas ilegal berisiko tinggi.
“Ini bukan sekadar tragedi, ini kejahatan kebijakan. Pemerintah harus berhenti cuci tangan. Nyawa rakyat bukan statistik,” tutup Lahul.
