Diduga Tolak Pasien Kista Nyeri Hebat, Pelayanan RSUD Raden Mattaher Jambi Disorot
JAMBI, Wartapembaruan.co.id – Pelayanan di RSUD Raden Mattaher Jambi kembali menuai sorotan tajam. Seorang pasien bernama Susi Rosnita diduga tidak mendapatkan penanganan maksimal meski datang dengan kondisi nyeri hebat akibat kista yang telah didiagnosis sebelumnya.
Menurut keterangan keluarga, Susi sebelumnya telah beberapa kali menjalani pemeriksaan dan dinyatakan menderita kista. Namun pada 2 Februari 2026, saat rasa sakit kembali menyerang dengan intensitas tinggi, ia mendatangi rumah sakit tersebut untuk mendapatkan pertolongan medis lanjutan.
Alih-alih dirawat atau diobservasi, pasien justru diperbolehkan pulang sekitar pukul 16.00 WIB setelah menjalani pemeriksaan dan hanya dibekali obat penahan nyeri. Keputusan itu memicu tanda tanya besar dari keluarga.
“Datang dengan kondisi kesakitan hebat, sudah ada riwayat kista, tapi hanya diberi obat lalu dipulangkan. Ini seperti mengabaikan kondisi pasien,” ujar salah satu anggota keluarga dengan nada kecewa.
Ironisnya, dalam perjalanan pulang, Susi kembali merasakan nyeri luar biasa hingga akhirnya keluarga memutuskan kembali ke rumah sakit. Namun setibanya di Instalasi Gawat Darurat (UGD), pasien disebut sempat tidak langsung diterima. Terjadi adu argumen antara keluarga dan petugas jaga terkait tanggung jawab penanganan medis.
Keluarga menilai ada sikap saling lempar tanggung jawab di internal pelayanan UGD. Pasien baru akhirnya diterima untuk dirawat setelah pihak rumah sakit mengetahui bahwa salah satu anggota keluarga merupakan wartawan.
Peristiwa ini memunculkan dugaan adanya standar ganda dalam pelayanan serta mempertanyakan penerapan SOP penanganan pasien dengan keluhan nyeri akut akibat kista. Publik pun mempertanyakan: apakah faktor profesi keluarga pasien memengaruhi keputusan medis?
Hingga berita ini diturunkan, manajemen RSUD Raden Mattaher Jambi belum memberikan klarifikasi resmi terkait alasan medis dipulangkannya pasien dalam kondisi nyeri hebat maupun dugaan penolakan saat pasien kembali datang.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelayanan kesehatan milik pemerintah daerah. Transparansi, profesionalisme, dan kesetaraan layanan bagi seluruh pasien tanpa diskriminasi dinilai menjadi harga mati demi menjaga kepercayaan masyarakat Jambi terhadap fasilitas kesehatan publik.


